Sumber: Google
Senja tidak pernah benar-benar membenci Ayahnya, ia hanya lelah jika harus sendiri, Ayahnya lumpuh tidak bisa bekerja, ibunya sakit-sakitan, sedangkan ia adalah anak tunggal, yang membuatnya terpaksa menjadi tulang punggung keluarga.
Setiap pagi Senja berangkat dengan hati yang berat, dan pulang dengan perasaan amarah dan lelah menyatu, begitu saja setiap hari, tapi malam ini berbeda, ia benar-benar sangat lelah, dan hujan mengguyur kota, menyebabkan Senja pulang dalam keadaan basah.
“Nak, sudah makan belum?, apa Ayah tadi bilang, harusnya kamu bawa payung, lihat kan sekarang kamu kehujanan.” Tegur Ayahnya.
“Sudahlah Ayah!!, Aku lelah bekerja, lihat Ayah lumpuh, setidaknya jika tidak bisa membantuku bekerja jangan banyak omong!, Aku pergi lagi saja, pusing jika berada di rumah ini terus.” Bentaknya sembari menutup pintu dengan kasar.
Bruk!!
Ayah hanya bisa menatap pintu itu dengan mata yang berkaca-kaca.
Senja berjalan sendirian di bawah rintik hujan dan dinginnya malam. Ia terhenti di sebuah taman, taman yang jarang dikunjungi banyak orang, karena katanya pernah ada pengeboman dua puluh tahun silam, itu berarti umurnya baru menginjak lima tahun. Seingatnya ia tidak pernah kesini, tapi kenapa rasanya seperti dekat?. Saat asyik melamun tiba-tiba ada yang mendorong Senja, lalu perlahan matanya mulai menutup, tapi sebelum sepenuhnya menutup, ia seperti melihat bayang-bayang orang yang sedang berlari ke arahnya.
~||~
Ketika Senja membuka mata, suara tawa anak-anak terdengar. Ia berdiri di sebuah taman yang indah dan bersih, ini seperti taman tadi, tapi bukannya tadi taman ini sangat kotor dan tidak terurus, kenapa bisa jadi seindah ini?
Ia melihat sekelilingnya, di depannya seorang anak perempuan kecil berlari menuju ayunan. Rambutnya dikuncir dua, gaunnya putih sedikit kotor di bagian lutut, tawanya ringan. Senja mengenal rawa itu
Disana...Ayahnya berdiri tak jauh, lebih muda, lebih tegap. Tangannya terbuka, siap menangkap jika anak itu jatuh.
Untuk sesaat, mereka saling pandang. Ayahnya...dan anak itu menghampirinya. Ia terus memandangi wajah anak itu, kenapa mirip sekali dengannya?,
Anak kecil itu menghampiri Senja. Menatapnya dengan mata bulat. “Halo Kakak cantik, Kakak siapa?, kalau namaku Senja.”
Deg
Dunia seakan berhenti berputar, bagaimana...bisa?, anak ini dan ayahnya, bagaimana mungkin?
“Hei, Kakak, Kakak, kenapa melamun?” panggil anak kecil itu.
Tersadar dari lamunannya Senja berkata, “ T-tahun berapa sekarang?.”
“ Tahun 2005, memangnya kenapa Nak?. “ jawab pria di samping Senja kecil.
2005?, bagaimana bisa?, itu dua puluh tahun lalu!, jadi ia kembali ke masa lalu?, berarti yang di depannya ini adalah ayahnya, dan dirinya saat kecil?, tapi kenapa?. Sebentar... Ayahnya berdiri dengan tegap?, berarti ia belum lumpuh, lalu kenapa Ayahnya lumpuh?. Banyak pernyataan yang muncul di benaknya saat ini.
“Hei Kakak, apa Kau tidak akan memberi tahu Aku siapa nama Kakak?.” Panggil Senja kecil.
Senja berjongkok, “ nama Kakak Sen-, Senli adik manis” senyum kecil terbit di wajah keduanya. “ kalau di pikir-pikir wajah kalian begitu mi-,” belum sempat Ayah menyelesaikan perkataannya tiba-tiba ada pengumuman di speaker.
“Perhatian. Ditemukan ancaman bom di area taman bermain. Seluruh pengunjung diharapkan segera meninggalkan lokasi.”
Tubuh Senja menegang, napasnya tercekat. Dan saat itulah potongan-potongan ingatan menghantam Senja. Tangisan, kekacauan, bau asap, dan rumah sakit. Ia ingat sekarang, Ayahnya... lumpuh, karena berusaha menyelamatkan, selama ini ia melupakannya karena traumanya.
Duar!!
Belum sempat ia mencerna situasi ledakan tiba-tiba terdengar, ia akan merubahnya, mungkin ini kesempatan yang Tuhan berikan padanya. “ Ayah...” suaranya tercekat, “ bawa Senja pergi sekarang!.”
Ayahnya mengangguk kecil sembari menggendong Senja kecil, “kamu juga.” Ajaknya. Namun belum sempat Senja menggenggam tangannya ledakan kedua terdengar kembali. “Ayah!!, bawa saja Senja sekarang, cepat!!!.” Teriaknya, “ bagaimana denganmu?.”
“Aku tak apa, bawa Senja saja dari sini secepatnya, aku berjanji akan kembali.” Katanya dengan mantap. “Baiklah, Kau sudah berjanji, Kau harus kembali, Nak.” Jawab Ayahnya dengan menggendong Senja kecil yang dari tadi sudah menangis.
Sekarang ia tahu, di depannya ada pohon yang akan tumbang dan menimpa Ayahnya, ia ingat, karena melindungi dirinya Ayahnya tertimpa pohon itu dan lumpuh, sekarang ia akan merubahnya. Ia berlari ke arah Ayahnya dan mendorongnya, sehingga sekarang ia yang tertimpa oleh pohon itu, sebelum matanya tertutup sepenuhnya ia menangis, dan berkata kecil, “ Maafkan Aku Ayah, sekarang Aku tahu, maaf karena terlambat ingat, terimakasih Tuhan, sekarang aku sadar, dan menyesal telah membentak Ayah.” Setelahnya hanya kegelapan yang datang.
~||~
Senja terbangun di kamarnya. Cahaya pagi masuk melalui jendela. Ia berjalan keluar, jantungnya berdebar kencang. Di ruang tengah, Ayahnya berdiri, tegak, sedang menyiram tanaman. Tidak ada kursi roda, Tidak ada luka.
Ayahnya menoleh dan tersenyum, “Pagi, Nak.”
Air mata Senja jatuh begitu saja. Ia berlari memeluk Ayahnya, erat, seakan takut bahwa ini adalah mimpi. “Maaf.” Isaknya. “Aku terlambat.”. Ayah mengusap rambut Senja, “ Tidak ada kata terlambat untuk pulang,” Katanya lembut.
Setelahnya Senja pun sarapan bersama Ayahnya, dan...Ibunya, yang sekarang tidak sakit-sakitan lagi. Dari sini Senja belajar, bahwa apa yang di depan mata belum tentu kebenarannya, kita harus melihatnya lebih dalam sebelum menyimpulkan satu hal, pasti ada alasan di balik semuanya, dan juga terkadang kita melupakan sesuatu bukan karena mau, tapi karena ingatan itu bisa membuat kita terluka.
Penulis : Laila Mujahidah Ramadhani X-J