jika
saja waktu itu aku memiliki keberanian, mungkin kamu sudah menjadi miliku"
Matahari
bersinar terang pagi itu. Suara burung terdengar merdu, menyatu dengan langkah
pelan seorang remaja yang menuju kelas. Ia masuk dengan raut wajah dingin,
seolah hari yang sedang ia jalani hanyalah pengulangan dari hari
sebelumnya—tanpa perubahan, tanpa kejutan. Ravel berjalan menuju bangkunya di
pojok kelas, tempat yang selalu redup dan minim cahaya. Ia duduk, memasang
earphone, dan membiarkan lagu Saat-Saat Itu mengisi ruang sunyinya. Satu per
satu siswa mulai berdatangan, namun tidak satu pun cukup menarik perhatiannya.
Matanya tetap terpaku pada layar ponsel, jari-jarinya lincah memainkan game
tanpa peduli pada siapa pun yang lewat.
Beberapa
menit berlalu, hingga terdengar suara ceria yang memecah ketenangannya.
“Hai,
selamat pagi, Vel!”
Seorang
gadis mungil melambaikan tangan dengan semangat yang hampir menulari siapa saja
yang melihatnya.
Ravel
tetap sibuk dengan gamenya, tidak menyadari bahwa ada seseorang yang berdiri di
depannya.
“Hei,
Ravel. Aku nyapa kamu loh. Nggak mau jawab?” sindir gadis itu.
Baru
saat itu Ravel menoleh. “Oh… hai. Selamat pagi, Ver.”
Ia
memberi senyum kecil pada Vera gadis energik yang selalu membawa cahaya sendiri
ke dalam ruangan.
Vera
mengintip ponsel Ravel dengan rasa ingin tahu yang begitu jelas.
“Main
apa sih? Asik banget sampe aku dicuekin gini.”
“MCGG,”
jawab Ravel sambil memperlihatkan layarnya.
Vera
memiringkan kepala, heran.
“Game
apa ini? Kayak catur, tapi bidaknya hero semua…”
Ravel
hanya tersenyum singkat. “Kamu gabakal ngerti. Udah sana, duduk di tempatmu.”
Vera
mendengus kecil, memberi tatapan kesal.
“Ck.
Nyebelin.”
Ia
pun berjalan kembali ke bangkunya, sementara Ravel kembali hanyut dalam
gamenya, seolah interaksi barusan hanya angin yang lewat.
Dari
arah pintu, terdengar langkah cepat seorang laki-laki memasuki kelas. Ia
langsung duduk di bangku sebelah Ravel.
“Eh,
Vel… gua baru liat lu ngobrol sama cewek sedeket itu,” ucapnya dengan nada
penasaran.
Ravel
mendengus kecil. “Hah? Biasa aja. Gua sering ngobrol sama cewek.” Pandangannya
tetap tertambat pada layar ponsel.
“Tapi
tadi keliatan asik banget. Lu suka ya sama Vera?” Adam menyengir, jelas
menggoda.
“Heh.
Lu kalo ngomong jangan asbun, Dam.” Ravel menatap Adam dengan kesal.
Adam
tertawa tipis. “Yaelah Vel, gua tau kok lu orangnya gimana.”
Bel
berbunyi, menandai dimulainya pelajaran. Suara langkah berat terdengar dari
luar, disusul pintu yang terbuka. Guru fisika masuk postur kekarnya membuat
suasana kelas langsung berubah hening.
“Selamat
pagi, anak-anak. Hari ini kita membahas gerak lurus beraturan,” katanya
lantang.
Pelajaran
berlangsung kaku, tanpa satu pun siswa berani bersuara. Hingga akhirnya, jam
pelajaran selesai.
“Oke,
jangan lupa PR-nya dikerjakan ya.” Ada ancaman halus di balik kalimat itu,
cukup membuat siswa hanya bisa terdiam.
“Apa-apaan,
pagi-pagi fisika udah dikasih PR…” gerutu Adam, wajahnya kesal.
“Yaelah,
tinggal kerjain. Apa susahnya,” jawab Ravel sambil memasukkan buku catatannya.
“Iya,
anak pintar idol fisika,” ejek Adam sambil manyun.
Ravel
memilih tak menanggapi.
Bel
pulang berbunyi. Satu per satu siswa meninggalkan kelas, menyisakan Ravel,
Adam, dan Vera.
“Vel, pulang mau nongkrong di mana?”
“Kayaknya
nggak dulu deh. Pengen langsung pulang.”
Adam
mengangkat alis. “Tumben. Biasanya lu yang paling cepet sampe.”
Ia
mengambil tasnya. “Yaudah, gua duluan ya.”
Kini
hanya Ravel dan Vera yang tersisa. Vera fokus menatap buku catatannya,
sementara Ravel kembali bermain ponsel. Namun ketenangan itu pecah ketika buk!
Vera menggebrak meja.
“Aduh!
Bikin kesel banget,” gerutunya sambil mengacak rambut.
Ravel
menoleh, sedikit terkejut, tapi kembali pada ponselnya.
“Apa
sih ini, gajelas banget…” Vera mengeluh, frustrasi.
Melihatnya
begitu kesal, Ravel akhirnya bertanya tanpa menoleh,
“Kenapa?”
“Ini
loh, PR fisika. Gajelas banget!” nada kesalnya masih terdengar pekat.
Ravel
berdiri dan menghampirinya. Ia melihat catatan Vera yang penuh soal fisika.
“Gampang
itu. Nggak perlu frustasi.”
Vera
memberi tatapan sinis. “Yaudah kalo gampang, kerjain sama kamu.” Ia menyodorkan
buku.
“Idih,
enak aja.” Ravel berbalik hendak kembali ke bangkunya.
Tapi
langkahnya terhenti oleh suara lirih.
“Hiks…
hiks…”
Ravel
menoleh cepat. “kamu nangis?”
Vera
tidak menjawab. Ia hanya menunduk dan mengusap matanya. Dalam sekejap, Ravel
merasa bersalah menyadari mungkin kata-katanya barusan terlalu tajam.
“Sorry…
sini, aku bantuin.”
Ia
duduk di sebelah Vera.
“Gini,
ku kasih tau caranya,” ujar Ravel pelan.
Vera
kembali memperhatikan buku. Awalnya ia fokus mengikuti penjelasan Ravel. Namun
lama-kelamaan, matanya berpindah menatap wajah anak laki-laki itu dari jarak
yang begitu dekat.
"Dilihat-lihat…
ternyata ganteng juga ya", gumamnya dalam hati, sambil terus mengamati
raut wajah Ravel yang serius mengajar.
Setelah
selesai membantu, Ravel berdiri dan mengambil tasnya.
“Udah
ya. aku pulang dulu.”
Ia
pun melangkah keluar kelas, meninggalkan Vera yang masih duduk di sana dengan
pipi yang entah kenapa terasa sedikit lebih hangat dari biasanya.
Sesampainya
di rumah, Ravel langsung melompat ke kasur dan merebahkan tubuhnya yang lelah.
Ia menatap langit-langit kamarnya; kosong, pucat, dan tak menawarkan apa pun
selain bayangan hari esok yang terasa sama membosankannya dengan hari ini.
Namun
di antara pikirannya yang berputar pelan, wajah Vera tiba-tiba muncul sebuah
wajah yang sebelumnya tak pernah ia pedulikan. Ravel mengerutkan dahi, heran
pada dirinya sendiri.
“Apa-apaan
barusan… ngapain gua ngebayangin muka dia,” gumamnya sambil menutup wajah
dengan bantal, geli sekaligus bingung.
Di
tengah keheningan kamar, sebuah notifikasi ponsel berbunyi. Ravel meraihnya
dengan malas, sekadar mencari pengalih dari kekosongan langit-langit yang terus
menatap balik.
Sebuah
pesan WhatsApp dari nomor tak dikenal muncul:
Hai,
ini beneran nomornya Ravel kan?
Ravel
hanya membaca tanpa membalas. Dalam pikirannya, itu pasti orang iseng. Ia
menaruh kembali ponsel itu di samping bantal dan memejamkan mata. Tak butuh
waktu lama sebelum tidurnya menyeretnya ke dalam mimpi.
Di
sana, ia melihat seorang gadis berlari mengenakan seragam sekolah. Tawa dan
suaranya terdengar begitu ceria, seperti angin pagi yang membawa rasa bebas.
Gadis itu berlari menjauh, namun tidak pernah benar-benar hilang dari
pandangannya.
Ravel
hanya berdiri, memperhatikannya dari kejauhan. Tak lama kemudian, gadis itu
berhenti. Dengan napas terengah-engah, ia berbalik dan mulai menghampiri
Ravel.Cahaya terang menutupi wajahnya, membuat Ravel tak mampu mengenali siapa
dia. Namun tubuhnya… suaranya… semua terasa familiar, seolah potongan kenangan
yang hilang muncul kembali dalam bentuk samar.
Gadis
itu terus mendekat, hingga jarak mereka tinggal satu langkah saja.
“Vel,
kok diem aja? Kejar aku dong,” ucapnya dengan suara yang membuat jantung Ravel
bergetar suara yang sangat ia kenal, tapi tak berani ia tebak.
Angin
tiba-tiba berembus kencang, menerbangkan dedaunan yang melintas di antara
mereka. Senja di belakang gadis itu perlahan tenggelam, menelan cahaya yang
menutupi wajahnya.
Dan
saat cahaya itu akhirnya pudar… Ravel terperanjat.
Gadis
itu adalah Vera. Seketika itu juga, Ravel terbangun. Nafasnya tersengal kecil.
Ia terdiam, mencoba memahami mimpi yang terasa terlalu nyata—terlalu dekat
dengan sesuatu yang tak pernah ia akui. Beberapa saat ia hanya menatap gelap,
membiarkan detak jantungnya kembali tenang. Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia
memejamkan mata lagi, berharap tidur bisa menjawab sisa guncangan yang belum
sempat ia mengerti.
Pagi
yang cerah akhirnya tiba. Cahaya mentari menetes lembut memenuhi setiap sudut,
sementara angin pagi bergerak pelan menyapu rambut panjang yang terurai—membawa
keindahan yang terasa sulit dibandingkan dengan apa pun. Langkah kecil Vera
menyusuri lorong kelas dengan ringan, seakan setiap pijakan bernyanyi pelan.
Suaranya yang ceria terdengar begitu familiar ketika ia membuka pintu dan
berseru,
“Selamat
pagi semuanya!!” Seruan itu disambut oleh hampir seluruh siswa. Hampir—karena
satu orang tidak ikut menyahut. Ravel tetap tenggelam dalam kebiasaannya:
earphone terpasang, ponsel di tangan, dan dunianya sendiri sebagai
perlindungan. Ia bahkan tidak menoleh sedikit pun. Melihat itu, Vera bergumam
pelan sambil mengerucutkan bibir,
“Dingin
banget… nggak kayak kemarin.”
Ia
berjalan menuju bangkunya, duduk, dan mulai mencari buku catatan di dalam tas.
Di sela-sela tangannya memilah barang-barang, pandangannya beberapa kali
melirik Ravel, yang masih asyik bermain game. Ravel sebenarnya
menyadarinya—namun memilih pura-pura tidak tahu.
Bel
masuk berbunyi. Pelajaran berlangsung seperti hari-hari sebelumnya. Ravel
memperhatikan guru dengan serius, mencatat setiap detail penjelasan seolah
dunia luar tidak pernah ada. Jam pelajaran kedua dimulai. Kali ini, siswa
diminta berpasangan untuk praktik percakapan Bahasa Inggris dengan syarat:
pasangan harus lawan jenis. Kelas langsung riuh, nama-nama disebutkan, dan
semua berlomba mencari pasangan. Vera, dengan sifatnya yang aktif, tentu
menjadi incaran banyak siswa. Sementara Ravel… bahkan tidak berniat mencari
siapa pun. Jika bisa, ia ingin melakukan tugas itu sendirian. Di tengah
keramaian itu, seorang gadis menghampiri meja Ravel. Ia menggenggam buku
catatannya, wajahnya memerah pelan.
“Eum…
Vel, kamu mau jadi pasangan aku nggak?” tanyanya malu-malu.
Vera,
yang sedari tadi memperhatikan Ravel, langsung berdiri dan menghampiri mereka.
Ia merangkul gadis itu dengan senyum lembut dan suara yang hangat.
“Eh…
maaf ya, Ravel udah ada pasangan.”
Gadis
itu mengangguk kecil, sedikit canggung, lalu memilih berpasangan dengan Adam.
Adam sendiri terheran-heran.
“Kok
bisa sih… Vera mau jadi pasangannya Ravel?” gumamnya.
Keributan
kelas mendadak mereda. Semua mata kini tertuju pada dua orang yang saling
berhadapan itu: Ravel dan Vera.
Merasa
menjadi sorotan, Ravel memalingkan wajah.
“Terserah
deh,” katanya singkat. “Yang penting beres.”
Vera
duduk di sampingnya dan membuka buku catatannya.
“Jadi…
kita mau bikin percakapan kayak gimana?” tanyanya sambil sedikit memiringkan
kepala.
Tatapannya
jernih, hangat, dan seolah menyimpan cahaya yang tak bisa dijelaskan. Pandangan
itu membuat Ravel terhenti sesaat, seakan angin lembut menyentuh wajahnya tanpa
izin, meninggalkan kesan aneh di dadanya.
“Vel?”
panggil Vera pelan.
Ravel
sedikit tersentak. “O-oh… eumm… gatau. Bingung.”
Dengan
jari menyentuh dagunya, Vera tampak berpikir keras. Tak lama, matanya berbinar
kecil, seperti menemukan sesuatu yang menyenangkan.
“Vel…
aku ada ide nih,” katanya, menatap Ravel lebih dekat.
“Gimana
kalau kita bikin percakapan kayak… cowok yang ngajak ceweknya buat kencan?”
Ravel
terkejut. Bukan hanya karena idenya, tapi juga karena cara Vera mengatakannya
riingan, manis, dan begitu dekat. Sesuatu di dadanya seperti tersandung pada
kata kencan itu.
Ia
mencoba terlihat biasa saja. Menahan napas sejenak, menata ekspresi agar tetap
datar sebelum akhirnya berkata,
“Kayaknya…
engga dulu deh.”
Setelah
kalimat itu keluar, Ravel justru penasaran dengan reaksinya. Ia menatap wajah
Vera dan dugaannya tepat. Sebuah kekecewaan halus tampak di mata gadis itu.
Tipis, tapi nyata. Seperti bayangan yang menutupi cahaya. Ada rasa yang tidak
ia ucapkan, namun diamnya sudah lebih dari cukup untuk berbicara.
Dengan
wajah yang kesal namun tetap berusaha tenang, Vera mulai menulis sesuatu di
buku catatannya. Guratan penanya bergerak cepat, seakan ia sedang menuangkan
semua kekesalan dan keinginannya dalam bentuk dialog. Setelah beberapa menit,
ia menutup bukunya dengan pelan, lalu mendorongnya ke arah Ravel.
“Gamau
tau,” katanya dengan nada manja sekaligus tegas. “Pokoknya kamu harus hafalin
ini buat praktik nanti.”
Ravel
menghela napas dan mulai membaca. Awalnya percakapan itu tampak biasa saja
seperti dialog dua teman yang bertemu kembali setelah lama berpisah, di bawah
lampu malam yang redup dan hangat, seolah panggung kecil tengah menyoroti dua
pemeran utama sebuah teater cinta.
“Hai…
udah lama ya kita nggak ketemu.”
“Iya,
apa kabar?”
“Baik.
Kamu sendiri gimana?”
Ravel
membaca baris-baris itu tanpa ekspresi. Namun matanya melebar ketika sampai
pada bagian berikutnya.
“Tau
nggak sih… selama ini aku nyimpen rasa ke kamu.”
“Hah?
Kenapa nggak bilang dari dulu? Aku juga suka tau sama kamu.”
Ravel
langsung menatap Vera, tak percaya.
“Bukannya
aku udah nolak buat bikin percakapan kayak gini ya?”
Vera
menatap balik, dan kali ini matanya berbinar—bukan marah, tapi seperti
seseorang yang sedang menikmati keberaniannya sendiri. Senyum manis muncul di
bibirnya, lembut namun penuh makna.
“Kan
kamu nggak mau bikin percakapan tentang ngajak kencan,” katanya pelan, hampir
seperti bisikan yang manis. “Jadi… yaudah, aku bikin percakapan pas mau jadian
aja… hehe.”
“Ayolah…
ini praktik pelajaran Bahasa Inggris, bukan percakapan teater cinta,” ujar
Ravel dengan wajah malas, suaranya datar seperti biasa.
Vera
mendengus pelan, lalu menutup bukunya sedikit keras.
“Yaudah
sih,” gumamnya, kesal. “Kalo nggak mau, ya nggak usah sekalian.”
Ia
menyilangkan tangan, bibirnya mengerucut, dan nada suaranya makin jelas
menunjukkan kekecewaan.
“Ga
dapet nilai juga gapapa.”
Beberapa
helai rambutnya jatuh menutupi pipi, tapi Ravel bisa melihat jelas: ada
kombinasi antara ngambek, marah, dan… entah sedikit terluka.Melihat kekesalan
yang mulai memudar menjadi diam murung di wajah Vera, Ravel akhirnya menyerah.
Tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain menuruti keinginannya. Ia
menghela napas panjang, seolah melepaskan sisa-sisa pertahanannya.
“Argh…
yaudah deh. Ayo, aku ikutin,” ucapnya akhirnya.
Meski
dalam hati Ravel merasa dirinya tidak punya kemampuan atau mungkin keberanian
untuk memainkan adegan seperti yang tertulis di percakapan itu, ia tak melihat
pilihan lain. Vera sudah terlanjur kecewa, dan entah kenapa… Ravel tidak ingin
menjadi alasan kekecewaan itu bertahan lebih lama. Dan mau tak mau, ia pun
melangkah masuk ke dalam dialog yang bahkan belum siap ia pahami oleh
perasaannya sendiri.
Mendengar
Ravel akhirnya bersedia masuk ke dalam dialog yang ia buat, senyum indah
kembali muncul di wajah Vera hangat, ringan, dan penuh kemenangan kecil yang ia
sembunyikan di balik tatapan cerianya.
“Nah
gitu dong… jangan ribet,” katanya sambil tertawa pelan. “Yaudah, ayo latihan.”
Mereka
mulai memerankan dialog itu bersama. Tak disangka-sangka, butuh waktu yang
sangat singkat bagi mereka berdua untuk menemukan ritme yang sama seolah ada
sesuatu dalam diri mereka yang secara alami saling melengkapi, bahkan tanpa
mereka sadari.
Waktu
yang ditunggu akhirnya tiba. Seluruh kelas duduk memperhatikan, sementara Ravel
dan Vera maju ke depan, berdiri di hadapan papan tulis dan puluhan pasang mata.
Vera
melangkah ke depan panggung kecil itu terlebih dahulu. Ia menatap ke arah
kosong seolah sedang melihat jalan yang sunyi seakan dunia di sekitarnya
menghilang.
Lalu
langkah kaki Ravel terdengar, pelan namun mantap.
“Hai…
udah lama ya nggak ketemu,” sapanya sambil melambaikan tangan kecil ke arah
Vera.
Vera
menoleh, dan seperti biasa, senyuman hangat itu mengembang.
“Hai.
Iya, udah lama. Kamu apa kabar?”
“Aku
baik. Kamu sendiri gimana?” balas Ravel.
“Aku
juga baik kok… nggak kerasa ya, udah dua tahun aja kita lulus…”
Ravel
mengernyit dalam hati dialog itu tidak ada dalam teks. Tapi ia memutuskan untuk
mengalir saja, membiarkan dirinya tenggelam dalam adegan itu.
“Iya…
udah lama komunikasi kita nggak jalan,” ia menimpali. “Padahal dulu kita sering
bareng-bareng.”
Vera
tersenyum senyum yang tidak hanya untuk dialog, tapi seakan untuk seseorang
yang sudah lama ia kenal. Ia menatap mata Ravel dengan lembut.
“Tau
nggak sih… dulu aku tuh suka sama kamu.”
Jantung
Ravel langsung berdegup kencang. Ada sesuatu dalam nada suara itu yang terasa
terlalu nyata… terlalu jujur… seolah bukan lagi percakapan buatan di kertas.
Kata-kata itu menciptakan getaran halus di dadanya, membuat Ravel seketika
kehilangan suara.
Ia
terdiam sesaat, berusaha mengembalikan dirinya ke “praktik pelajaran”, tapi
gagal.
Akhirnya
ia berbicara, dengan suara yang nyaris tidak bisa ia kenali sendiri:
“Aku
juga suka sama kamu.”
Mata
Vera bersinar, seperti kunang-kunang kecil yang menerangi gelapnya malam.
Dengan
senyum manis yang menghanyutkan, ia berkata pelan namun penuh makna:
“Sekarang
masih kan? Kenapa nggak jadian aja sekarang?"
Ravel
terperanjat. Dunia seolah berhenti sesaat. Antara peran dan kenyataan, batas
mulai hilang.
“Iya…
ayo jadian,” ucapnya, hampir seperti bisikan yang lolos begitu saja dari
bibirnya.
Begitu
kalimat itu meluncur, Ravel langsung berbalik dan kembali ke bangkunya. Ia
menarik napas panjang, sangat panjang seolah ingin membebaskan dirinya dari
suasana yang baru saja menyergap keras hatinya.
Dialog
sederhana itu tidak hanya menjadi tugas kelas. Ia berhasil membawa perasaannya
terbang ke tempat yang belum pernah ia pijak sebelumnya.
Seisi
kelas langsung riuh oleh tepuk tangan dan pujian. Beberapa siswa bersorak,
beberapa lainnya tertawa kagum melihat apa yang baru saja terjadi di depan mata
mereka.
“Wah,
gila… ini seriusan praktik percakapan?” ucap Adam yang masih terkejut dengan
adegan dramatis tadi.
“Ini
sih awal kisah mereka berdua, hahaha,” celetuk salah satu siswa yang tampak
terpesona oleh totalitas Ravel dan Vera.
Sementara
kelas penuh dengan riuh rendah, Ravel justru terdiam. Suara tepuk tangan itu
seperti bergema jauh di belakang pikirannya. Di dalam hatinya, satu pertanyaan
berulang-ulang muncul tanpa bisa ia hentikan.
"Perasaan
apa ini?"
Ravel
tidak terbiasa dengan hal seperti ini. Ada kehangatan halus yang mengalir di
dadanya, rasa senang yang muncul begitu saja tanpa ia minta. Seolah hari itu
bukan lagi hari biasa, melainkan hari pertama dalam hidup yang benar-benar
berbeda. Seperti kanvas hitam yang mendadak dipenuhi warna, membentuk lukisan
yang tidak pernah ia bayangkan.
Ia
tidak tahu bagaimana cara menjelaskan perasaan itu. Namun yang pasti, sesuatu
dalam hidupnya telah bergerak. Dunia Ravel yang selama ini datar, tenang, dan
hitam putih… kini mulai tampak berwarna.
Sementara
itu, Vera tampak sangat senang menerima semua sorakan dan pujian yang memenuhi
kelas. Wajahnya berseri, matanya berbinar, seolah energi seluruh ruangan
mengalir masuk ke dalam dirinya. Ia kemudian berjalan menghampiri Ravel yang
sedang duduk terpaku, masih terjebak dalam lamunannya sendiri.
“Vel!!
Keren banget improv kamu tadi. Cocok jadi aktor, haha.”
Ravel,
yang masih tenggelam dalam pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya,
tidak langsung menyadari bahwa Vera sedang memujinya. Suara Vera seperti
terdengar jauh, seakan datang dari balik kabut yang belum mau memudar di
pikirannya.
Melihat
Ravel hanya diam dan melamun, Vera mulai curiga. Ia mendekat sedikit dan
melambai di depan wajah Ravel.
“Hello!
Kamu kenapa ngelamun?”
Ravel
tersentak kecil mendengar suara itu. Ia buru-buru menata ekspresinya, berusaha
terlihat biasa saja.
“Gapapa,”
jawabnya cepat. “Cuma… nggak nyangka aja aku bisa kayak gitu.”
Vera
tersenyum kecil lalu mendekat, tatapannya sedikit nakal.
Dengan
mata yang begitu indah dan suara yang menggoda, ia berkata pelan,
“Cie…
baper ya sama dialog singkat tadi.”
Ravel
langsung terdiam lagi, lebih karena malu daripada bingung. Perkataan itu
seperti menekan tombol yang membuat dadanya kembali berdebar.
“Gausah
malu, bilang aja kalo baper.”
Vera
terus menggoda Ravel yang masih terjebak dalam pusaran pikirannya sendiri. Nada
suaranya ringan, tapi cukup kuat untuk mengusik hati siapa pun yang
mendengarnya.
Ravel
mencoba membantah, meski suaranya terdengar sedikit lebih pelan dari biasanya.
“Udahlah…
yakali baper sama tugas sekolah.”
Vera
hanya mengangkat bahunya sambil tersenyum tipis.
“Yaudah.
Awas nyesel kalo nanti telat ngungkapin.”
Ia
menambahkan tawa kecil yang terdengar begitu renyah. Tawa itu seperti menarik
benang halus yang menghubungkan perasaan Ravel, membuatnya semakin sulit
mengabaikan apa yang sebenarnya sedang ia rasakan.
Ravel
tetap berusaha bersikap dingin. Ia mengangkat alisnya seolah berkata bahwa ia
tidak akan pernah menyesali apa pun. Namun di balik ekspresi datarnya, ada
sesuatu yang bergerak pelan di hatinya, sesuatu yang bahkan ia sendiri belum
siap untuk mengakui..
Di
tengah obrolan mereka, tiba-tiba terdengar suara bel istirahat.
“Vel,
denger nggak?” tanya Vera.
Ravel
yang tidak mengerti maksudnya hanya mengerutkan dahi.
“Hah?”
“Bel
istirahat udah bunyi, ikut aku yuk.”
Ajakan
itu terlalu tiba-tiba sampai Ravel tidak sempat memprosesnya.
“Ikut
ke mana?”
Tanpa
menjawab, Vera langsung meraih tangan Ravel dan menariknya keluar kelas.
“Udah,
ikut aja.”
Ravel
tidak punya kesempatan untuk menolak. Ia hanya bisa mengikuti langkah Vera,
masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Vera
membawanya menuju kantin. Setelah sampai, ia menunjuk kursi paling ujung.
“Duduk,
Vel. Aku beli makan dulu sebentar.”
Ravel
menurut. Beberapa menit kemudian, Vera kembali dengan dua mangkuk mi ayam yang
masih mengepul panas.
“Nih
Vel, kamu harus cobain. Ini makanan paling enak di dunia.”
Ravel
menatapnya, bingung.
“Loh,
kenapa tiba-tiba ngasih mi ayam? Aku nggak minta.”
Vera
tersenyum manis, senyum yang mampu membuat siapa pun merasa hangat.
“Cepet
makan. Ini apresiasi dari aku karena kerja keras kamu di praktik tadi.”
Mendengar
itu, Ravel akhirnya tersenyum. Ia mengambil sendok dan mulai mencicipi mi ayam
itu. Rasanya sederhana, tapi entah kenapa terasa lebih enak ketika diberikan
oleh seseorang yang tulus.
Di
sisi lain, Adam yang sedang membeli jajanan di kantin tidak sengaja melihat
mereka berdua makan bersama. Mata Adam langsung membesar, seakan melihat
fenomena langka yang jarang muncul di alam.
Tanpa
pikir panjang, ia mengambil ponselnya dan memotret momen tersebut.
Setelah
itu, Adam kembali ke kelas dan memperlihatkan foto itu kepada teman-temannya.
Reaksi kelas pun beragam. Ada yang kaget, ada yang terheran, ada yang dari awal
sudah menduga.
Bahkan
ada yang berkomentar sambil tertawa,
“Si
pintar dan si ambis emang udah seharusnya barengan nggak sih, hahah.”
Suasana
kelas berubah ramai, sementara dua orang yang menjadi pusat pembicaraan masih
duduk berdampingan di kantin, tanpa menyadari bahwa kisah mereka tengah
diperbincangkan oleh seluruh ruangan.
Ravel
dan Vera akhirnya kembali ke kelas. Namun begitu pintu dibuka, suasana yang
tadinya penuh canda mendadak hening. Beberapa siswa langsung bisik-bisik,
mencoba menahan tawa.
“Sttt,
pangeran sama permaisuri udah balik,” bisik seseorang sambil menahan senyum.
Ravel
langsung merasa ada yang berbeda. Atmosfer kelas terasa aneh, seperti semua
orang sedang menyembunyikan sesuatu. Tapi seperti biasa, ia memilih untuk tidak
memperdulikannya. Ia berjalan tenang menuju bangkunya dan duduk.
Baru
saja ia duduk di bangkinya, Adam langsung menghampiri dengan ekspresi penuh
kemenangan.
“Cieee,
udah mulai cinta-cintaan nih.”
Ravel
mendengus, kesal.
“Apasih,
Dam. Gajelas banget. Si Vera cuma ngasih mi ayam buat tanda terima kasih
praktik tadi.”
Adam
melipat tangan, memandang Ravel penuh curiga.
“Masa
sih?”
Ravel
sudah kehilangan sabar. Ia memutuskan tidak melanjutkan percakapan itu dan
hanya menatap meja, berharap Adam berhenti mengganggunya. Melihat temannya itu
diam, Adam akhirnya mundur sambil terkikik kecil.
Setelah
drama singkat yang memenuhi kelas, pelajaran kembali berjalan seperti biasa.
Namun bagi Ravel, ada sesuatu yang terasa berbeda, seolah ada warna baru yang
perlahan mewarnai hari-harinya.
Waktu
perlahan menggeser jarum jam hingga tepat pukul empat sore. Suara kursi
bergeser dan ritsleting tas terdengar bersahutan di kelas. Ravel sedang
memasukkan buku-bukunya ketika Adam menghampiri dengan santai.
“Vel,
nongkrong yuk di tempat biasa,” ajaknya.
Ravel
mengangguk tanpa banyak pikir dan mereka pun melangkah keluar kelas. Saat
berjalan, Adam kembali memunculkan pertanyaan yang sudah berkali-kali ia
lontarkan.
“Vel,
lu beneran gak ada apa-apa sama Vera?”
Ravel
memutar bola matanya, lelah mendengar pertanyaan yang sama.
“Berapa
kali sih gue harus jelasin. Gue sama Vera itu gak ada apa-apa.”
Adam
hanya mengangkat bahu.
“Oke,
oke. Yaudah.”
Di
tempat nongkrong mereka yang sederhana, terlihat seseorang duduk sambil
memainkan ponselnya. Jack, teman sekelas Ravel saat kelas sepuluh. Tubuhnya
tinggi dan terlihat jauh lebih dewasa dibanding dulu.
Ravel
menyapanya dengan senyum kecil.
“Oy
Jack, tumben nongol di sini.”
Jack
menoleh, ikut tersenyum.
“Iya
nih, gabut. Temen kelas gue sekarang gitu deh, gak seasik dulu pas sama lu.”
Ravel
tertawa pelan.
“Yaudah
lah. Coba lu ikut nongkrong kalau mereka ngajak, biar makin deket.”
Jack
hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.
Tak
lama kemudian, seakan teringat sesuatu, Jack mendekat sedikit.
“Eh
Vel, cewek energik banget di kelas lu itu siapa sih?”
Ravel
mengerutkan kening, mencoba menebak.
“Cewek
yang mana?”
Jack
langsung menjawab tanpa ragu.
“Itu,
yang kemarin di kantin sama lu. Pacar lu ya?”
Baru
saat itu Ravel paham bahwa yang dimaksud adalah Vera.
“Oh
dia. Namanya Vera. Dan bukan, dia bukan pacar gue. Kenapa emangnya? Lu suka
sama dia?”
Jack
tersenyum malu, pipinya sedikit memerah.
“Ehe…
iya. Kenalin gue dong sama dia. Dia cantik banget.”
Ravel
hanya mengangkat alis dan menjawab singkat.
“Oke.
Besok dateng aja ke kelas.”
Jack
langsung tampak gembira, seperti anak kecil yang baru dapat hadiah.
Setelah
obrolan mereka cukup panjang dan matahari mulai meredup, Ravel, Adam, dan Jack
memutuskan untuk pulang.
Hari
itu berakhir sederhana, tapi ada sesuatu yang terasa berbeda di dada Ravel.
Seolah sesuatu yang ia sendiri belum berani akui mulai bergerak pelan.
Sesampainya
di rumah, Ravel langsung masuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Sunyi malam merayap perlahan, dan di antara keheningan itu pikirannya kembali
berjalan menuju kejadian pagi tadi. Ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang
hangat namun aneh, memenuhi ruang kecil di dalam dadanya. Baru kali ini ia
merasakan kehangatan yang datang dari kehadiran seorang perempuan.
Dia
terdiam, bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Apakah ada benarnya ucapan Adam
selama ini? Apakah ia… benar-benar menyukai Vera?
Pertanyaan
itu berputar-putar di kepalanya, tanpa jawaban. Rasa lelah perlahan menarik
kelopak matanya turun. Dalam tarikan napas panjang yang terakhir, Ravel
akhirnya tenggelam dalam mimpi.
Di
dalam mimpinya, ia berdiri di tengah padang rumput luas. Langit terbentang
biru, angin lembut berhembus menyentuh wajahnya dengan damai. Pemandangannya
begitu indah, seolah dunia sedang berada dalam keadaan paling tenangnya.
Lalu,
di tengah kesunyian itu, ia mendengar langkah kaki. Suara yang terasa begitu
familiar. Ravel menoleh, mencari sumbernya. Dari kejauhan, tampak sepasang
sosok berjalan berdampingan. Wajah mereka tidak terlihat, seakan tertutup
cahaya lembut yang sulit ditembus, namun entah mengapa Ravel merasa sangat
yakin bahwa ia mengenal kedua orang itu.
Satu
langkah mendekat, dan jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Siapa mereka?
Dan mengapa perasaan itu terasa begitu nyata?
Setelah
memperhatikan pasangan itu dari kejauhan, rasa penasaran mulai menggelitik hati
Ravel. Langkahnya terhenti sejenak, lalu perlahan ia mencoba mendekat. Setiap
jengkal jarak yang ia kurangi membuat detak jantungnya semakin cepat. Entah
mengapa, ia merasa harus tahu siapa sosok laki-laki dan perempuan yang berjalan
begitu serasi itu.
Angin
menggoyangkan rerumputan di sekelilingnya, seolah ikut mengiringi langkahnya
yang ragu. Namun sebelum ia sempat melihat wajah mereka, sebelum cahaya yang
menutupi sosok itu sempat memudar, suara lain tiba-tiba memecah seluruh
ketenangan mimpi itu.
Alarm
berbunyi nyaring.
Semua
pemandangan indah itu runtuh begitu saja, lenyap seperti lukisan yang disobek
paksa.
Ravel
terbangun dengan napas pendek. Seketika ia terdiam, mencoba memahami potongan
mimpi yang baru saja menghilang dari genggamannya. Di kepalanya, bayangan
sepasang sosok itu masih samar, namun rasa ingin tahu tentang siapa mereka
tetap tinggal, menggantung seperti sisa mimpi yang enggan pergi. Menyadari
bahwa hari sudah pagi, Ravel buru-buru bangun dan bersiap untuk berangkat ke
sekolah. Air dingin yang menyentuh wajahnya tidak cukup untuk menghapus sisa
mimpi yang masih menggantung di benaknya. Bahkan saat ia melangkah keluar rumah
dan menyusuri jalan menuju sekolah, pikirannya tidak benar-benar berada di
dunia nyata.
Ia
masih memikirkan mimpi semalam. Sepasang sosok yang berjalan berdampingan,
cahaya yang menutupi wajah mereka, dan rasa penasaran yang terus menggigit
hatinya. Ada sesuatu tentang pasangan itu yang terasa dekat, seolah ia
seharusnya mengenal mereka. Namun semuanya terlalu kabur untuk dipahami.
Entah
apa yang sebenarnya ia rasakan, tetapi keinginan untuk mengetahui siapa mereka
terus tumbuh di dalam dirinya. Setiap langkah yang ia ambil menuju sekolah
justru membuat bayangan mimpi itu semakin jelas, namun tetap saja tak
terjangkau, seperti sesuatu yang sengaja dibiarkan misterius oleh alam bawah
sadarnya.
Sesampainya
di sekolah, Ravel melangkah melewati gerbang dengan kepala yang masih dipenuhi
sisa-sisa mimpi. Namun langkahnya terhenti ketika ia melihat seseorang berlari
kecil menuju arah yang sama. Rambut panjang itu bergerak mengikuti angin pagi,
dan suara langkah ringan itu tak salah lagi… itu Vera.
Mereka
bertemu tepat di depan gerbang sekolah. Matahari pagi jatuh di wajah Vera,
menciptakan kilau hangat yang membuatnya terlihat seolah disinari dari dalam.
Cahaya itu memantul lembut di matanya, membuat waktu seakan melambat untuk
sesaat.
Ravel
terpaku. Detik itu juga, ia merasakan sesuatu di dadanya bergerak pelan.
Sinar
matahari, napas yang sedikit terengah setelah berlari, dan senyum tipis yang
muncul begitu alami di wajah Vera… semuanya berpadu dalam satu pemandangan
sederhana namun memikat. Dan dalam sekejap itu, Ravel akhirnya menyadari
sesuatu yang selama ini ia bantah mati-matian.
Perasaan
itu ada.
Benar-benar
ada, diam, tumbuh, dan perlahan memenuhi ruang hatinya tanpa ia sadari.
Ia
terus menatap wajah Vera yang sedang terengah pelan setelah berlari. Ada
sesuatu yang menenangkan sekaligus mengusik di sana. Tanpa ia sadari, ia sudah
menatap terlalu lama hingga suara Vera memecahkan lamunannya.
“Vel,
ngapain bengong?”
Ravel
terperanjat. Ia mengatur napas cepat, berusaha mengembalikan kesadarannya.
“Oh…
engga, gapapa,” jawabnya singkat. Ia lalu menunduk sedikit, mencoba
menyembunyikan kegugupannya. “Aku duluan ya.”
Ia
melangkah cepat menuju kelas, berharap angin pagi bisa ikut menenangkan
perasaannya yang masih kacau.
Namun
baru beberapa langkah, suara langkah ringan kembali mengejarnya.
“Vel,
tunggu. Bareng ke kelasnya.”
Ravel
berhenti. Ia menoleh, dan melihat Vera menghampirinya sambil tersenyum kecil.
Tanpa banyak bicara, mereka berjalan berdua menuju kelas, ditemani suara
dedaunan yang bergesekan oleh angin.
Sesampainya
di kelas, mereka duduk di bangku masing-masing. Ravel menarik napas panjang,
mencoba memahami apa yang sedang terjadi dalam dirinya.
Sejak
bertemu di gerbang tadi, perasaan yang ia rasakan tampak semakin jelas.
“Apakah
ini benar seperti yang Adam bilang?” gumamnya dalam hati.
Belum
sempat ia menyimpulkan apa pun, dentuman keras menggema dari mejanya.
“Oy,
Vel. Masih pagi jangan ngelamun.”
Ravel
terkejut dan refleks menjawab, “Kurang ajar lu.”
Adam
tertawa kecil sambil duduk di bangkunya. Ia menatap Ravel dengan pandangan yang
seolah bisa membaca pikirannya.
“Lu
kenapa sih? Akhir-akhir ini sering banget bengong. Mikirin apa? Perasaan lu
sama Vera?”
Pertanyaan
itu membuat Ravel tercengang. Seolah semua yang berputar di kepalanya terbaca
jelas di wajahnya. Ia belum sempat menjawab apa pun ketika Adam kembali
bersuara.
“Udahlah,
gausah heran. Gua temenan sama lu udah lama, gua tau lah lu gimana.”
Adam
membuka ponselnya santai, lalu menambahkan satu kalimat yang sukses membuat
dada Ravel mengencang.
“Kalo
suka bilang. Jangan dipendem. Di tikung temen, nyesel entar.”
Kata-kata
itu menggantung di udara, membekas jauh lebih dalam dari yang Adam sadari.
Di
tengah lamunannya, Ravel dikejutkan oleh suara laki-laki dari arah luar kelas.
Seseorang memanggil namanya berulang kali. Butuh beberapa detik sebelum ia
tersadar dan bangkit untuk melihat siapa yang datang.
Ternyata
Jack.
Begitu
melihat wajahnya, Ravel langsung mengerti maksud kedatangannya tanpa perlu
dijelaskan apa pun.
Tanpa
banyak bicara, Ravel menoleh ke arah Vera.
“Ver,
sini bentar deh.”
Vera
menatapnya bingung.
“Hah?
Ngapain?”
Ravel
hanya melambaikan tangan pelan, memberi isyarat agar Vera segera
menghampirinya. Vera akhirnya bangkit dan berjalan mendekat. Begitu ia tiba di
dekat Ravel, barulah ia menyadari kehadiran Jack yang berdiri tepat di
depannya.
“Ada
apa ini?” tanya Vera pelan.
Ravel
menjawab santai.
“Nih,
ada yang mau kenalan katanya.”
Vera
mengerinyitkan dahi dan memperhatikan Jack lebih jelas. Jack yang sedari tadi
terlihat gugup mencoba mencairkan suasana dengan senyuman canggung.
“Hai…
boleh kenalan?”
Suaranya
terdengar pelan namun penuh usaha.
Dengan
nada bingung tapi sopan, Vera menjawab,
“Oh
iya, boleh. Aku Vera.”
Begitu
melihat keduanya mulai berbicara, Ravel merasa tidak ada hal lain yang harus ia
lakukan di sana. Ia memilih meninggalkan mereka, berjalan kembali ke dalam
kelas, dan duduk di bangkunya. Namun meski ia tampak tenang, ada sesuatu yang
samar bergerak di dadanya, sesuatu yang tidak ingin ia akui, bahkan kepada
dirinya sendiri.
Beberapa
jam berlalu. Kegiatan sekolah berjalan seperti biasa, tanpa sesuatu yang
menarik, tanpa kejadian spesial, tanpa hal yang pantas disimpan dalam kenangan.
Ketika jarum jam tepat menunjukkan pukul empat sore, Ravel menutup bukunya dan
mulai berjalan pulang.
Setiap
langkah yang ia ambil membawa suasana yang sulit dijelaskan. Ada kegelisahan
yang halus namun mengganggu, rasa yang sebelumnya tidak pernah ia kenal. Entah
mengapa pikirannya terus kembali pada kejadian tadi siang. Ada bagian dari
dirinya yang merasa bahwa memperkenalkan Jack kepada Vera adalah sebuah
kesalahan. Perasaan itu muncul begitu saja, tanpa permisi dan tanpa logika.
Namun
Ravel mencoba menepisnya. Ia tidak ingin memikirkan hal yang tidak seharusnya
memenuhi kepalanya.
Angin
sore berembus pelan, membawa suara terengah-engah dari belakang. Ravel menoleh,
dan betapa terkejutnya ia melihat Vera sedang berlari menyusulnya sambil
melambaikan tangan.
“Vel,
tungguin aku. Ayo pulang bareng.”
Ravel
menghentikan langkahnya. Ia menunggu sampai Vera berdiri di sampingnya. Gadis
itu berhenti sejenak, membungkuk sedikit sambil bernapas berat.
“Aduh,
capek…”
Ravel
tersenyum kecil melihat tingkahnya.
“Ya
salah sendiri lari-lari.”
Vera
hanya menggeleng sambil masih terengah, tanpa bisa membalas.
Mereka
kemudian berjalan berdampingan melewati gerbang sekolah. Ada canda kecil, ada
tawa ringan, dan ada rasa nyaman yang tumbuh tanpa mereka sadari. Dari luar,
mereka terlihat seperti pasangan serasi yang sedang jatuh cinta, meski keduanya
belum benar-benar ingin mengakuinya.
Tanpa
mereka ketahui, seseorang berada beberapa langkah di belakang mereka. Adam yang
baru keluar dari gerbang melihat pemandangan langka itu. Refleks, ia
mengeluarkan ponselnya dan mulai merekam Ravel dan Vera yang berjalan bersama,
seolah sedang mengabadikan awal dari sebuah kisah yang belum siap mereka
pahami.
Sesampainya
di rumah, Ravel tak banyak bicara. Ia langsung menuju kamar, meletakkan tasnya
tanpa suara, lalu merebahkan diri. Angin sore yang masuk dari jendela mengusap
wajahnya lembut, membuat kelopak matanya semakin berat hingga akhirnya ia
tenggelam dalam tidur.
Dalam
lelap itu, pemandangan yang sama datang kembali. Padang rumput luas, angin yang
menenangkan, dan sepasang kekasih yang berjalan berdampingan. Pemandangan yang
sempat membuatnya penasaran kini kembali menghantui alam bawah sadarnya.
Namun
ada sesuatu yang berbeda kali ini.
Cahaya
yang selama ini menutupi wajah pasangan itu mulai memudar, perlahan namun
pasti. Semakin dekat mereka berjalan ke arahnya, semakin jelas senyuman bahagia
yang terpancar dari keduanya. Hati Ravel bergetar, seakan tahu bahwa jawaban
yang selama ini ia cari sedang menuju ke arahnya.
Hingga
akhirnya pasangan itu berhenti tepat di depan Ravel.
Ia
mendengar sebuah suara, pelan namun menusuk jauh ke dalam hatinya.
“Vel,
makasih ya. Kamu udah bantuin aku dapetin dia.”
Ravel
menoleh dengan cepat ke arah sumber suara itu. Dan saat wajah pasangan itu
terlihat jelas, ia membeku.
Sosok
yang berdiri di depan Ravel adalah Jack
dan
di sampingnya, tersenyum bahagia sambil menggenggam tangannya
adalah
Vera.
Seketika
dunia mimpi yang tenang berubah menjadi sesuatu yang sepi dan menyesakkan.
Ravel
hanya terdiam, tak mampu bergerak, seakan seluruh tubuhnya lumpuh oleh
kenyataan yang barusan ia lihat…
atau
mungkin kenyataan yang paling ia takutkan.
Ravel
terbangun dari mimpinya dengan napas yang berat.
Ia
menatap langit-langit sejenak sebelum mengalihkan pandang ke jendela.
Di
luar sana, malam seperti tenggelam dalam cahaya bintang.
Semua
begitu indah, tapi keindahan itu terasa jauh dari genggamannya.
“Cuma
mimpi,” gumamnya pelan, seakan mencoba menenangkan hati yang justru semakin
gelisah.
Namun
pikirannya tidak berhenti.
Ia
terus memikirkan maksud semua mimpi yang datang berulang malam demi malam.
Kenapa
selalu ada sepasang kekasih, kenapa selalu ada cahaya yang memudar, dan kenapa
selalu ada rasa kehilangan sebelum sempat menggenggam?
Hingga
akhirnya, tanpa perlu suara apa pun, hatinya menjelaskan jawaban yang tak ingin
ia dengar.
Mimpi-mimpi
itu bukan sekadar bunga tidur.
Mimpi
itu adalah bayangan dari perasaan yang selama ini ia tutupi.
Ia
tidak hanya kagum pada Vera.
Ia
menyukainya.
Ia
ingin memilikinya.
Ia
ingin pulang pada seseorang yang membuat hatinya merasa hidup.
Namun
logika tidak pernah berjalan searah dengan hati.
Pertanyaan
demi pertanyaan muncul seperti gelombang yang tak bisa ia hentikan.
“Kalo
dia sama gua, dia bahagia gak ya?”
“Dia
kan sukanya nongkrong di tempat yang agak mahal… gua kuat gak ya?”
Pertanyaan
kecil yang terlihat sepele itu tajam.
Satu
per satu menusuk sisi hatinya yang lembut, membuat langkahnya perlahan mundur
sebelum ia sempat maju.
Di
tengah perang antara hati dan logika itu, ponselnya berbunyi.
Ravel
mengambilnya dengan malas, membuka pesan tanpa ekspektasi apa pun.
Namun
nama pengirimnya membuat napasnya tertahan.
Jack.
“Vel,
bantuin gue dong. Gue suka sama Vera, gue mau deketin dia.”
Ravel
membeku.
Kalimat
itu pendek dan sederhana, tapi rasanya seperti angin dingin yang memadamkan
satu-satunya api hangat yang tersisa di hatinya.
Ia
menatap layar cukup lama, tak tahu harus tersenyum atau pingsan.
“Kalau
gue maksa deketin dia, saingannya berat,” katanya dalam hati.
Ia
tahu Jack jauh di atasnya, entah dari segi fisik, percaya diri, ataupun materi.
Dan
pada akhirnya ia sadar, ia sedang berdiri di tepi jurang.
Di
satu sisi ada harapan yang ingin ia pertahankan.
Di
sisi lain ada pengorbanan untuk membuat seseorang yang ia cintai tersenyum,
meski bukan untuknya.
Ravel
menarik napas panjang, seperti menutup pintu hatinya dari dalam.
“Aku
bantu,” jawabnya dalam hati sebelum menuliskan balasan untuk Jack.
Keesokan
harinya, suasana terasa berbeda bagi Ravel.
Hari
yang biasanya penuh warna kini terasa seperti langit kelabu yang menahan hujan.
Begitu
sampai di kelas, ia langsung duduk, menunggu kehadiran Vera dengan dada yang
berat.
Beberapa
menit kemudian, Vera tiba.
Tanpa
memberi kesempatan pada keraguannya untuk menang, Ravel langsung berdiri
menghampiri.
“Pagi,
Ver. Ada yang mau aku omongin bentar.”
Vera
terkejut, ekspresinya bingung dan penasaran.
“Tumben
banget, ada apa?”
Ravel
menarik napas yang terasa lebih berat dari biasanya.
“Gini.
Kamu masih ingat kan cowok yang ngajak kamu kenalan di depan kelas waktu itu?”
Vera
mengangguk, masih terlihat bingung.
“Oh,
iya. Aku masih ingat. Jack kan?”
“Iya,”
jawab Ravel, menelan rasa perih begitu saja.
“Kamu
udah sering chatan belum sama dia?”
Vera
tersenyum pelan.
“Udah
sih. Beberapa hari ini dia sering ngechat aku. Kenapa ya?”
Seolah
ada bagian dari dirinya yang retak, Ravel merasakan dadanya mengencang.
Namun
ia tetap melanjutkan kalimat yang ia tahu akan menyakitinya.
“Dia
suka sama kamu. Dan aku cuma mau bilang kalau… dia cocok sama kamu.”
Ada
jeda singkat sebelum kata-kata itu benar-benar selesai di udara.
Dan
di jeda itu, hatinya jatuh pelan, tanpa suara, tanpa saksi.
Ravel
tersenyum kecil untuk menutupi sesuatu yang hampir pecah.
Lalu
ia kembali duduk di bangkunya, seolah tidak ada apa pun yang terjadi.
Sekolah
berjalan seperti biasa.
Hanya
saja, untuk pertama kalinya, hari terasa panjang…
dan
Ravel merasa dirinya benar-benar sendirian, meski dunia di sekelilingnya tetap
ramai seperti biasa.
Hari
demi hari berlalu.
Ravel
menjadi saksi bisu dari kedekatan Vera dan Jack yang semakin erat.
Ia
hanya bisa melihat punggung gadis yang selama ini ia kagumi, berjalan menjauh
sedikit demi sedikit… hingga ia tidak lagi berada di sisinya.
Lalu
tibalah hari itu.
Sebuah
pagi yang cerah bagi dunia, namun bukan bagi hati Ravel.
Pukul
enam pagi, ponselnya berbunyi.
Pesan
dari Jack.
“Vel,
jam delapan nanti datang ke warung biasa ya. Ada yang mau gua omongin.”
Di
hari Minggu yang seharusnya tenang, Ravel sebenarnya tidak ingin pergi ke mana
pun. Namun rasa penasaran menariknya keluar dari kasur, memaksa hatinya untuk
tetap kuat meskipun ia sendiri tahu ia sedang rapuh.
Ia
berjalan menuju tempat yang dimaksud.
Dan
dari kejauhan, ia melihat pemandangan yang cukup untuk menghancurkan siapa pun
yang sedang berusaha terlihat baik-baik saja.
Jack
dan Vera duduk berdua.
Tertawa.
Saling
menatap.
Bahagia.
Langkah
Ravel terhenti.
Ada
sesak yang datang perlahan, namun pasti.
Ada
sesuatu di dadanya yang runtuh tanpa suara.
Ia
ingin berbalik pulang.
Ia
ingin menyelamatkan hatinya sebelum terluka lebih dalam.
Tapi
sebelum ia sempat berbalik, Vera melihat ke arahnya.
“Vel,
kemana aja? Lama banget ditungguin.”
Ravel
tersenyum. Senyum yang dipaksakan begitu rapi hingga tidak ada satu retakan pun
terlihat, kecuali oleh dirinya sendiri.
“Sorry,
tadi kesiangan.”
Jack
mengajak duduk, dan Ravel duduk di bangku seberang keduanya.
Ia
memesan kopi hanya untuk memberikan alasan agar ia tidak terlihat ingin segera
pergi.
“So,
lu ngajak gue ke sini buat apa?” ucap Ravel, mencoba terdengar biasa.
Jack
tertawa ringan.
“Santai
dulu lah. Baru dateng juga. Minum kopi dulu, kalo mau pesen makan juga pesen.
Gue traktir.”
Ravel
menghela napas.
“Gausah.
Gue gabisa lama. Langsung aja.”
Jack
dan Vera sempat saling bertatapan, tak mengerti sikap Ravel yang tampak
terburu-buru.
Lalu
Jack mulai bicara.
“Gua
cuma mau bilang makasih. Lu udah bantuin gua deket sama Vera. Sekarang… kita
resmi jadian. Tadi niatnya mau ajak lu ngopi di Coffenack buat ngerayain, tapi
kayaknya lu lagi sibuk ya? Gapapa, lain kali gua traktir.”
Kata-kata
itu singkat, tapi terasa panjang bagi Ravel.
Dadanya
seperti ditarik jatuh ke dalam jurang yang tak terlihat.
Namun
tidak ada satu pun emosi yang ia tunjukkan di wajahnya.
“Oh…
itu doang. Santai aja. Kalo gitu gua duluan ya.”
Ravel
berdiri dan melangkah pergi.
“Eh
Vel, kopi lu belum diminum loh!” teriak Jack.
Namun
Ravel tidak menoleh.
Ia
terus berjalan tanpa suara, tanpa penjelasan, tanpa sisa tenaga untuk
tersenyum.
Begitu
sampai rumah, ia langsung terbaring di kasur.
Ia
menatap langit-langit kamar, namun matanya kosong, seolah ia sedang melihat
sesuatu yang jauh melampaui dunia nyata.
Ia
mencoba berbicara kepada dirinya sendiri.
“Lu
ga pantes buat kecewa. Lu ga pantes buat dia. Udah… sewajarnya aja.”
Namun
suara itu terdengar seperti kebohongan yang ia paksa untuk dipercaya.
Hatinya
seperti tanah yang retak, dan di bawah retakan itu ada jurang yang tak berdasar
“Sekarang
gua ngerti… cinta ga selalu tentang memiliki, ya?” bisiknya pelan.
Lalu
ia tertawa kecil, tawa yang terdengar lebih mirip luka daripada kebahagiaan.
“Sialan…
kenapa gua harus suka sama dia sih? Tapi ya gapapa… setidaknya gua tau dia
bahagia, dan di dalam kebahagiaannya ada campur tangan gua.”
Dengan
napas berat, hati yang kosong, dan rasa yang perlahan mati, Ravel menutup
matanya.
Hari
itu ia mengerti satu hal dengan sangat jelas.
Ketika
seseorang berani merasakan cinta, ia juga harus siap merasakan derita.
Dan
cinta bukan hanya tentang menggenggam…
kadang
cinta adalah tentang melepaskan sambil memastikan orang yang kau sayangi tetap
tersenyum, meski senyuman itu bukan untukmu.
