Sumber : Pinterest
Sistem pendidikan di Indonesia menghadapi berbagai tantangan yang memengaruhi kualitas pembelajaran dan hasil pendidikan. Kerusakan yang dimaksud tidak selalu bersifat fisik, melainkan lebih pada aspek sistemik, seperti kebijakan, pelaksanaan, dan pemerataan mutu pendidikan.
Salah satu permasalahan utama adalah ketimpangan kualitas pendidikan antara daerah perkotaan dan pedesaan. Akses terhadap fasilitas belajar, tenaga pendidik yang berkualitas, serta teknologi pendidikan masih belum merata. Akibatnya, kesempatan peserta didik untuk memperoleh pendidikan yang setara menjadi terbatas.
Selain itu, sistem pendidikan cenderung berorientasi pada nilai dan ujian, bukan pada pemahaman serta pengembangan kemampuan berpikir kritis. Proses belajar sering kali lebih menekankan hafalan dibandingkan analisis, diskusi, dan pemecahan masalah. Kondisi ini membuat peserta didik kurang siap menghadapi tantangan nyata di luar lingkungan sekolah.
Dampaknya memang tidak akan terasa secara langsung saat masih bersekolah, tetapi akan terlihat ketika peserta didik telah lulus dan terjun ke dunia nyata. Seorang pelajar dapat merasa terkejut menghadapi berbagai permasalahan kehidupan karena sebelumnya belum pernah menghadapinya. Bahkan, siswa yang berprestasi tinggi di sekolah pun dapat mengalaminya, karena kepandaiannya hanya sebatas kemampuan akademik, bukan kesiapan menghadapi realitas kehidupan. Terlebih lagi, standar pendidikan di Indonesia masih menganggap kesalahan sebagai sesuatu yang memalukan, serta menganggap banyak bertanya sebagai bentuk pembangkangan. Jika standar seperti ini terus dipertahankan, tidak mengherankan apabila pendidikan di Indonesia sulit untuk mengalami kemajuan.
Permasalahan lain terlihat pada tingginya beban administrasi guru. Guru sering disibukkan dengan berbagai laporan dan tuntutan administratif, sehingga waktu dan energi untuk meningkatkan kualitas pengajaran menjadi berkurang. Padahal, peran guru sangat menentukan keberhasilan proses pendidikan.
Finlandia merupakan salah satu negara dengan sistem pendidikan yang berbeda. Di negara tersebut, profesi guru sangat dihargai. Bahkan, terdapat sebuah pernyataan yang menyebutkan bahwa menjadi dokter lebih mudah dibandingkan menjadi guru. Pernyataan ini menunjukkan bahwa peran guru dipandang sangat krusial. Hal ini sangat berbeda dengan kondisi di Indonesia, di mana profesi guru masih sering dipandang sebelah mata. Gaji yang diterima pun kerap tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup. Oleh karena itu, rendahnya kualitas pendidikan bukan disebabkan oleh kurangnya kompetensi guru, melainkan karena negara belum mampu menyediakan fasilitas yang memadai serta kesejahteraan yang layak bagi para pendidik.
Perubahan kurikulum yang relatif sering juga menjadi tantangan tersendiri. Ketidaksiapan infrastruktur dan sumber daya manusia dalam menerapkan kebijakan baru dapat menimbulkan kebingungan di tingkat sekolah. Hal ini berpengaruh terhadap konsistensi dan efektivitas pembelajaran.
Secara keseluruhan, kerusakan dalam sistem pendidikan di Indonesia mencerminkan perlunya pembenahan secara menyeluruh, tidak hanya pada kurikulum, tetapi juga pada pemerataan akses, peningkatan kualitas pendidik, serta penegasan tujuan utama pendidikan itu sendiri. Pendidikan seharusnya mampu membentuk manusia yang berpikir kritis, berkarakter, dan mampu beradaptasi dengan perubahan, bukan sekadar mengejar angka dan formalitas.
Penulis : M Kahfi Giyas Shidiq X-I
Tags:
Wawasan