Sumber : Pinterest
Aku yang Tak Kukenal
Aku adalah seorang pemuda yang sakit, atau mungkin hanya seorang pemuda yang gagal memahami cara menjadi manusia. Setiap pagi, suara pintu tetangga yang tertutup saat mereka berangkat kerja terdengar seperti vonis mati bagiku. Mereka memiliki tempat untuk dituju, peran untuk dimainkan, sementara aku hanya memiliki empat dinding kamar yang semakin hari terasa semakin sempit. Aku sering berpura-pura sibuk di depan ibuku, membolak-balik koran atau menatap layar laptop dengan kening berkerut, seolah-olah aku sedang merencanakan sesuatu yang besar bagi masa depanku. Padahal, aku hanya sedang berusaha keras agar tidak dianggap sebagai parasit yang membusuk di sudut rumah. Aku tidak membenci mereka; aku hanya takut jika suatu hari mereka menyadari bahwa di balik kulit ini, tidak ada siapa-siapa, hanya sebuah kekosongan yang luas dan gelap.
...
Aku sedang menatap deretan buku di perpustakaan, mencoba memutuskan mana yang membuatku lebih produktif, ketika sebuah tepukan di bahuku yang meruntuhkan seluruh pertahananku. Itu adalah Ravindra, dia adalah sosok yang dulu duduk di sampingku ketika smp, kini dia terlihat lebih percaya diri, dengan senyuman yang terlihat seperti seseorang yang terlalu puas dengan dirinya sendiri, sampai-sampai senyumnya seperti di paksakan, cukup memuakkan bagiku.
Ia berbicara tentang fashion, barang bermerek, promosi, rumah, bahkan hal yang tidak perlu dikatakan ia katakan, sementara aku hanya bisa menggenggam erat koin terkahirku di sakuku.
Setiap kata yang keluar dari mulutnya seperti paku yang menghantamkan posisiku sebagai sebuah kegagalan. Aku tertawa, memberikan selamat dengan nada yang paling menyakinkan yang bisa kumanipulasi, namun di dalam hatiku, aku merasa sedang merayap di bawah kakinya seperti serangga Kafka yang menjijikkan. Saat ia bertanya, ‘Lalu, kamu sibuk apa sekarang?’, lidahku kelu. Aku ingin berteriak bahwa kesibukanku adalah menahan diri agar tidak menghilang dari muka bumi, tapi yang keluar hanyalah senyum kaku dan kebohongan kecil yang hambar.
“Aku sibuk melakukan hal biasa”. Aku mengatakannya dengan nada yang begitu menyakinkan, hampir percaya diri.
Ravindra menatapku dalam diam, menatapku seolah berbicara ‘apa yang barusan dia katakan? Apakah dia benar-benar mengatakan hal seperti itu?’. Dia hanya membalas dengan senyuman itu lagi .. memuakkan.
“Sibuk melakukan hal biasa ya?” Jawabnya.
“Kau beruntung sekali, aku bahkan sudah tidak tahu bagaimana rasanya melakukan hal biasa itu, setiap hari aku menjadi luar biasa untuk orang tuaku, menjadi sempurna untuk perusahaan orang tuaku, dan menjadi sebuah kemenangan untuk orang-orang di media sosial”.
Ada jeda di antara kita, itu membuat perpustakaan yang tadinya hening menjadi sangat hening .. bahkan aku bisa mendengar detak jantungku.
Aku tidak menduga-duga dia akan mengatakan hal seperti itu dari mulutnya sendiri, yang bahkan sepertinya tidak cocok di katakan untuk orang seperti dia. Apa maksudnya itu?.
“Jujur saja, aku iri padamu, di balik semua kemewahan ini, aku merasa seperti mayat hidup yang didandani hanya agar layak dipajang di etalase toko.”
“Aku lelah bersandiwara. Tapi aku terlalu pengecut untuk berhenti, aku terus hidup dalam bayang bayang orang tuaku.”
“Setiap langkah yang ku ambil, setiap kata yang kuucapkan, semuanya sudah di siapkan dengan matang oleh mereka, aku hanya bayangan yang di paksa menyerupai manusia.” Jawab Ravindra dengan suara yang begitu lirih, seolah membiarkan luka-lukanya terlihat jelas.
Aku berdiri di sana menatap Ravindra yang kini terlihat murung dari sebelumnya, kata kata yang terucap dari bibirnya, meruntuhkan tembok besar di dalam diriku, menyadarkan satu hal bagiku,
Ternyata kita sama sama tersesat, bedanya aku tersesat dalam bayang bayang diriku yang gelap,
Sementara dia tersesat di bawah lampu panggung yang terang benderang.
Ketika hendak membalasnya, Ravindra pergi begitu saja, bahkan pergi dengan senyuman itu lagi. Senyuman yang palsu, senyuman yang menyimpan banyak sekali kebohongan.
Aku membiarkannya pergi tanpa aku membalasnya. Seperti memang itulah akhirnya.
...
Aku berjalan pulang, menyusuri trotoar yang sepi, langkah ku terasa ringan sekarang, dengan kenyataan bahwa aku masih terasa asing dengan namaku sendiri. Namun, ada sesuatu yang bergeser di dalam hatiku, aku tidak lagi berusaha keras untuk menjadi manusia seperti yang kuinginkan.
Aku sadar bahwa aku memang terikat dengan keterasingan ini, dan mungkin, itulah identitasku yang sebenarnya. Aku bukan seseorang yang sedang sakit dan butuh disembuhkan, aku hanyalah seseorang yang melihat dunia dari sudut yang berbeda.
Sesampainya di rumah, aku segera masuk ke dalam kamar, menatap diriku di cermin, menatap mataku dalam-dalam, dan mengangguk pelan.
“Halo, orang asing.” Ucapku lirih.
Untuk pertama kalinya aku merasakan ketenangan, bukan karena menemukan jalan keluar, tetapi aku akhirnya berhenti mencari ‘pintu’ yang memang tidak pernah ada. Aku akhirnya menerima bahwa aku adalah orang asing bagi diriku sendiri, dan dunia yang penuh dengan sandiwara ini, dengan kejujuran itu sudah lebih dari cukup bagiku.
Penulis : Rani Juliani X-J