ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤSumber : Google
Matahari baru saja terbangun di balik rimbunnya kebun singkong di pinggiran desa. Suara mesin penggiling padi milik juragan tanah mulai menderu dari kejauhan, bersahutan dengan bau solar yang tajam terbawa angin dari perahu-perahu nelayan di tepian Sungai Cisadane. Kabut tipis masih menyelimuti jalanan setapak yang becek oleh sisa hujan semalam. Di sebuah rumah kayu yang atapnya mulai miring, Darma terbangun oleh suara gemericik air sumur. Ia terdiam sejenak di atas balai-balai bambu, mendengarkan detak jam dinding yang seakan berpacu dengan rasa benci yang perlahan tumbuh di dalam dadanya.
Darma melangkah menuju dapur yang pengap oleh asap tungku yang menyengat mata. Di sana, ia melihat ibunya sedang sibuk mengais sisa nasi kemarin dari dalam panci tua untuk dijadikan sarapan. Dengan ujung daster yang sudah tipis dan pudar warnanya, ibunya menyodorkan sepiring nasi putih dengan sedikit garam di pinggirnya. Ibunya selalu tersenyum tenang, lalu berkata bahwa ia masih kenyang dan sudah makan di dapur tadi. Darma hanya bisa menelan ludah dengan getir. Ia tahu betul bahwa ibunya sedang berbohong, karena sejak semalam perut ibunya hanya berisi air putih demi memastikan Darma tidak berangkat sekolah dengan perut kosong.
Darma mulai bergegas. Ia meraih tas kainnya yang sudah kusam, lalu duduk di ambang pintu untuk mengenakan sepatunya. Sepatu itu sudah lama sekarat. Bagian depannya bolong besar. Setiap kali ia melangkah di jalanan becek, air lumpur yang kental akan menyusup masuk dan merendam kaus kakinya yang sudah tipis. Rasanya dingin dan lengket. Ia harus berjalan berjinjit saat memasuki gerbang sekolah agar tidak meninggalkan jejak kaki basah yang memalukan di lantai semen. Darma sangat benci hujan, karena hujan selalu membawa air masuk ke dalam sepatunya dan membawa ejekan dari teman-temannya.
“Bau lumpur sawah!” celetuk salah satu teman sekelasnya minggu lalu sambil menutup hidung.
Kalimat itu masih terngiang. Darma hanya bisa menunduk, menyembunyikan kakinya di balik tas agar bau itu tidak menyebar ke mana-mana. Hidup memang tidak adil. Ia merasa Tuhan sedang membiarkannya berjalan sendirian di tengah kegelapan, sementara anak-anak lain bisa tertawa riang dengan sepatu mengkilap dan wangi parfum yang mahal.
Bunyi pintu kelas yang seret saat didorong selalu berhasil membuat kepalanya pening. Suaranya melengking, seperti rintihan kayu yang sudah lelah menahan usia. Di pojok ruangan, peta Indonesia yang warnanya sudah pudar tampak tergantung lesu di dinding yang berjamur. Sobekannya sangat lebar. Anehnya, sobekan itu berada tepat di wilayah tempat Darma tinggal sekarang. Seolah-olah peta itu pun tahu bahwa tempat ia berpijak memang sedang terluka dan terlupakan oleh dunia. Darma menatap sobekan itu lama sekali, merasa bahwa dirinya dan wilayah yang sobek itu memiliki nasib yang sama, namun tidak pernah benar-benar dianggap berharga.
Pak Guru masuk ke kelas. Beliau terdiam sejenak. Dengan perlahan, beliau menggulung lengan baju kemejanya yang sudah mulai pudar warnanya sampai ke siku. Beliau kemudian mengambil sepotong kapur tulis dan mulai menggambar sebuah garis lurus di papan tulis yang retak. Darma hanya bisa memperhatikan gerakan tangan gurunya dengan pandangan kosong. Pikirannya masih melayang pada ibunya yang tadi pura-pura kenyang dan sepatunya yang kini mulai terasa lembap kembali karena embun pagi. Ia merasa terjebak dalam sebuah ruang yang sempit, antara kewajiban untuk belajar dan keinginan untuk lari saja dari kenyataan hidup yang menyesakkan ini.
Di tengah suasana yang sunyi itu, tiba-tiba sebuah kegaduhan kecil pecah dari bangku paling belakang. Gani, anak laki-laki pendiam itu, mendadak bangkit dengan wajah yang pucat pasi. Ia menggeledah tas kainnya dengan tangan yang bergetar hebat. Segala isinya tumpah ke lantai, namun benda yang dicarinya tidak juga nampak.
“Dompet saya hilang, Pak!” teriaknya dengan suara yang pecah.
Seluruh kelas mendadak kaku. Pak Guru berhenti menulis, lalu perlahan memutar tubuhnya dengan sisa kapur yang masih menempel di jemari. Suasana menjadi sangat mencekam, lebih dingin daripada air sumur di rumah Darma saat subuh tadi. Semua mata mulai saling melirik dengan penuh prasangka yang tajam. Darma merasakan jantungnya berdegup kencang, seolah-olah ingin melompat keluar dari dadanya yang kurus. Ia teringat sesuatu. Tadi, saat ia berjalan melewati rimbun pohon singkong menuju sekolah, ia sempat melihat sebuah benda hitam tergeletak di atas tanah yang becek.
Darma merogoh saku celananya. Jemarinya menyentuh permukaan kulit yang kasar dan lembap. Benda itu ada di sana. Sejak tadi, dompet itu terasa sangat berat, seberat beban rahasia yang ia bawa dari rumah. Ia teringat bayangan ibunya yang tadi pagi hanya meminum air putih agar dirinya bisa makan. Uang di dalam dompet ini mungkin bisa membelikan ibunya sekarung beras, atau mungkin sepasang sepatu baru agar ia tidak lagi dihina karena bau lumpur sawah. Konflik itu berkecamuk hebat di dalam kepalanya, seperti ombak Sungai Cisadane yang sedang pasang.
“Coba periksa laci masing-masing,” perintah Pak Guru dengan suara yang rendah namun penuh penekanan.
Darma memejamkan mata. Bayangan ayahnya yang pergi tanpa pamit melintas begitu saja. Darma tidak ingin menjadi seperti itu. Ia tidak ingin menjadi seorang pengecut yang lari setelah mengambil apa yang bukan haknya. Perlahan, ia membuka matanya kembali. Dengan langkah yang terasa sangat berat, ia berdiri dari bangkunya yang berderit nyaring. Ia berjalan menuju meja Pak Guru, melewati tatapan-tatapan teman sekelasnya yang kini tertuju padanya dengan penuh tanya.
“Ini, Pak... tadi saya menemukannya di jalan,” ujar Darma dengan suara yang parau.
Ia meletakkan dompet itu di atas meja yang berdebu kapur. Tangannya masih bergetar, namun entah kenapa, beban di pundaknya mendadak luruh menjadi serpihan debu yang tak berarti.
Pak Guru mengambil dompet itu tanpa suara. Beliau tidak langsung membukanya, melainkan menatap Darma dengan pandangan yang seolah sedang membaca lembar-lembar luka di dalam hati muridnya itu. Pak Guru mengangguk pelan, lalu sebuah senyuman tulus terukir di wajahnya yang mulai keriput.
“Terima kasih, Darma. Kamu sudah melakukan hal yang benar. Hati yang jujur itu jauh lebih bersih dan mulia daripada seragam putih mana pun yang ada di ruangan ini,” ujar Pak Guru dengan suara yang sangat teduh.
Darma hanya bisa tertunduk semakin dalam. Kalimat itu terasa seperti embun yang jatuh di atas tanah gersang, memberikan kesejukan yang sudah lama tidak ia rasakan di tengah gempuran nasib yang membakar dadanya. Ada sebersit rasa bangga yang mekar perlahan, membuat debar jantungnya yang semula memburu kini mulai berirama dengan tenang. Namun, di balik rasa lega yang menyelimuti raga, ia kembali teringat pada saku celananya yang kini benar-benar kosong dan hampa. Ia menyadari bahwa kejujuran telah menyelamatkan jiwanya, namun ia tetap harus pulang menghadapi kenyataan tentang sepasang sepatu yang masih setia menganga minta diganti.
Matahari sudah lama tenggelam di balik rimbunnya pohon-pohon bambu di pinggir desa saat Darma sampai di depan rumahnya yang berdinding papan. Suasana rumah terasa begitu sunyi, hanya suara jangkrik yang bersahutan dari balik semak-semak. Saat ia mendorong pintu kayu yang sudah miring engselnya, ia melihat ibunya sedang duduk di atas balai-balai bambu sambil melipat baju-baju yang sudah pudar warnanya. Di bawah sinar lampu minyak yang temaram, Darma bisa melihat sisa-sisa air mata yang masih basah di pipi ibunya. Hati Darma terasa seperti diremas melihat pemandangan itu. Ia tahu ibunya baru saja selesai menangisi keadaan, atau mungkin menangisi perpisahan dengan ayahnya yang kini entah ada di mana.
“Darma, sudah pulang, Nak? Ayo makan dulu, ada sedikit nasi dan sambal di dapur,” suara ibunya terdengar sangat lemah, seperti menahan beban yang teramat berat.
Darma tidak menjawab. Ia hanya menatap jemari kakinya yang masih mengintip dari balik sepatu bolong yang kini sudah berlumur lumpur kering. Rasa marah dan sedih bercampur aduk di dalam dadanya. Ia merasa hidup ini tidak adil. Kenapa anak-anak lain di sekolah bisa memakai sepatu baru dan diantar oleh ayahnya dengan motor, sementara ia harus berjuang sendirian menahan rasa malu? Kenapa keluarganya harus berantakan seperti ini? Kebencian itu sempat tumbuh dalam hatinya, hampir saja mengalahkan rasa sayang kepada ibunya yang setiap hari bekerja keras menjadi buruh cuci hanya demi dirinya.
Malam semakin larut dan udara dingin mulai menyusup dari sela-sela dinding kayu. Darma mengambil air wudu di sumur belakang yang airnya terasa menusuk tulang. Di atas sajadah lusuh yang warnanya sudah tidak jelas lagi, ia bersujud lama sekali. Dalam sujudnya, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah juga. Ia teringat dompet Gani yang masih terasa berat di saku celananya. Ia seolah mendengar bisikan antara keinginan untuk membahagiakan ibunya dengan uang itu, atau menjaga harga diri yang selalu diajarkan gurunya di sekolah.
“Ya Gusti, aku ini orang kecil... aku butuh uang itu untuk ibu, tapi hatiku rasanya tidak tenang. Tolonglah beri aku jalan yang lurus agar aku tidak salah melangkah,” bisiknya di sela-sela doa.
Setelah sholat, Darma duduk diam di atas sajadah sambil memandangi bayangan pohon mangga di luar jendela yang tertiup angin. Perasaan bimbang yang tadinya membara perlahan mulai mendingin seperti air sumur yang membasahi wajahnya tadi. Ia menyadari bahwa penderitaan ibunya tidak akan selesai hanya dengan uang hasil mencuri, justru itu akan menambah beban dosa yang tak akan pernah habis. Ada semacam cahaya kecil yang mulai menyala di hatinya, membimbingnya untuk mengambil keputusan paling berat dalam hidupnya. Besok pagi, ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan menjadi orang merdeka, orang yang tidak diperbudak oleh rasa takut dan kemiskinan.
Matahari sudah tinggi dan cahayanya masuk lewat ventilasi kelas yang berdebu. Darma masih duduk diam di kursinya. Di depannya, Gani menaruh sebuah bungkusan kertas cokelat yang sudah agak lecek di atas meja kayu yang banyak coretannya. Teman-teman yang lain tidak ada yang tertawa atau mengejek seperti biasanya. Mereka hanya berdiri diam di sekitar bangku itu dengan muka yang tampak serba salah.
“Ini buat kamu, Darma. Kami semua patungan,” kata Gani pelan sekali.
Darma tidak langsung menjawab. Ia menatap bungkusan itu lama sekali. Saat ia membukanya pelan-pelan, bau karet sepatu yang masih baru langsung tercium, menyengat di antara bau pengap ruang kelas. Sepatu itu hitam dan keras, bukan sepatu mahal, tapi terlihat sangat kuat. Darma menyentuh bagian depannya yang masih utuh tanpa lubang. Ia teringat sepatu lamanya di bawah kolong meja yang sudah berlumur lumpur kering dan hancur.
Rasanya ada yang sesak di tenggorokannya tapi ia tidak ingin terlihat cengeng di depan teman-temannya. Ia hanya bisa mengangguk pelan sambil terus memegang sepatu itu. Ia tahu sepatu ini tidak akan membuat ayahnya pulang atau membuat ibunya tidak perlu lagi minum air putih untuk menahan lapar. Tapi paling tidak, besok ia tidak perlu lagi berjalan berjinjit saat melewati gerbang sekolah karena malu. Darma menoleh ke arah dinding kelas. Peta Indonesia yang warnanya sudah pudar dan sobek itu masih tergantung lesu di sana. Sobekannya masih besar tepat di tempat ia tinggal sekarang. Tapi hari ini, Darma merasa sobekan di peta itu tidak lagi terlihat begitu menyedihkan. Ia merasa seperti baru saja menemukan sepotong bagian dari dirinya yang selama ini hilang. Bukan karena uang, tapi karena ia tahu ia tidak lagi berjalan sendirian di jalanan yang becek itu.
Bulan-bulan berlalu, dan Darma tidak lagi dikenal sebagai anak pendiam yang sepatunya bolong. Ia menjadi cahaya baru di sekolah. Setiap kali lomba cerdas cermat diadakan, namanya selalu disebut. Darma tidak lagi harus menatap panci kosong di rumahnya. Prestasi yang lahir dari sepatu barunya itu pelan-pelan membukakan pintu beasiswa yang selama ini terasa tertutup rapat. Peta Indonesia yang luka di dinding kelas itu tetap ada di sana. Sobekannya tetap nyata, namun bagi Darma, peta itu kini tampak lebih indah. Ia menyadari bahwa meskipun keluarganya hancur oleh perceraian dan dunianya sempat terasa tidak adil, ia tetaplah bagian dari satu tubuh besar bernama Indonesia. Nilai-nilai luhur itu tidak lagi terasa asing atau menjulang tinggi di langit, melainkan membumi dalam setiap langkah kakinya yang kini mantap menapak bumi dengan sepatu yang baru, membawa harapan yang lebih besar dari sekadar rasa malu di masa lalu.
Penulis: Thaqifa Djamza Shadavie Lazuwardi XI-D