Kisah Klasik

 

Ilustrasi: Pixabay.com

Dunia terasa terlahir kembali karena lembaran baru di masa putih abu baru saja dimulai. Senyum yang terpajang manis di wajah gadis itu tak pernah lepas untuk ia beri kepada teman-teman barunya. Setiap langkah yang ia pijak di sekolah selalu beriringan dengan harapan bahwa jenjang sekolah kali ini bisa ia lewati dengan hati yang tenang, sabar yang lapang, dan lulus tanpa bimbang.

Tapi dugaannya, salah.

Bukan tentang renggangnya pertemanan, bukan lagi tentang kurangnya kepuasan terhadap nilai, atau ketidakcocokan lingkungan tetapi hal yang paling kompleks di ’usia remajanya’ yaitu, tentang perasaan.

Seharusnya sejak awal racun romansa tidak diminum oleh gadis itu. Pertemanan ‘itu’ pun seharusnya ia sadari untuk mengenal saja bukan penasaran terhadapnya. Bermula dari sapaan senang kemudian gurauan ringan berakhir dengan tidur yang tak tenang karena pikiran yang penuh dengan angan-angan.

Kisah Klasik ini dimulai sejak...

Pagi itu, dengan wajah ceria gadis itu memperkenalkan diri di hadapan teman-temannya. “Hai namaku Bulan salam kenal ya!” singkatnya.

Bulan dikenal dengan sosok ekstrovert dan banyak bicara sehingga mudah baginya mendapatkan teman. Kicau gurauan teman yang tak pernah Bulan ambil hati membuat orang tak segan untuk bergurau dengannya. Tapi, Bulan salah paham tentang dia. Bintang. Teman yang selalu usil padanya setiap hari. Kenapa gurauan yang diberi Bintang membuat suasana hatinya berbeda?

”Ih Bulan wibu ya uu wibu bau bawang” ucap Bintang lalu duduk di samping Bulan yang sedang fokus membaca komik online di handphonenya.

“Engga ya aku bukan wibu! Kamu kali” jawab Bulan kesal lalu memutar bola matanya.

 “Aku bukan wibu, tapi nanti akan With You” guraunya yang membuat pipi Bulan panas dan memerah.

Ini bukan kali pertamanya Bintang bergurau dengan Bulan. Sejak berbulan-bulan berteman dengannya, Bulan selalu saja meneguhkan hatinya agar tidak goyah dengan gurauan garing dari Bintang tetapi tetap saja rasanya seperti kupu-kupu yang menari di perutnya.

Perlahan rasa nyaman itu naik dan mengikat mereka satu sama lain. Bukan, bukan tentang nyaman sebagai teman, tapi hal yang berbeda. Seperti sepasang kekasih?.

Ini hal yang ditakutkan oleh Bulan sejak awal. Musuhnya bukan lagi tentang soal ujian matematika atau kimia tapi persoalan tentang perasaannya terhadap Bintang.

“Besok nonton aku tanding yuk gratis kok” ajak Bintang sekedar basa-basi tapi Bulan salah menilai ajakannya. Jika bisa memilih sejak awal seharusnya Bulan tidak ikut menonton saja, mungkin kisah klasik ini hanya akan mengalir seperti air.

Kisah manis itu dimulai setelah pertandingan Bintang selesai. Malam yang indah dengan senyum Bulan yang merekah, Bintang dengan gugup yang menggemaskan ia menyatakan perasaannya pada Bulan. Bulan tak menyangka ternyata Bintang memiliki perasaan yang sama terhadapnya.

Hari-hari dijalani penuh kasih. Sapaan pagi yang membuat semangat menjalani hari. Kalimat kekhawatiran satu sama lain menjadikan mereka merasa disayangi. Ucapan selamat tidur pun tak pernah terlewatkan setiap malam untuk merangkai mimpi. Ah, mungkin, bagi keduanya terlalu indah untuk sekedar diceritakan melalui diksi.

Lalu, berbulan-bulan lamanya...

Puncak kala itu menyatu dengan balutan hangat mentari diiringi kicau burung menambah suasana tenang untuk semesta. Tapi, berbeda dengan suasana perasaan Bulan. Angin dingin yang sudah menjadi ciri khas dari Puncak menerpa wajah Bulan yang sudah memanas. Bukan, bukan lagi memanas karena debaran bahagia namun menahan air mata. “Aku belum cukup puas atas alasan kamu untuk mengakhiri hubungan ini”.

Bintang menghela nafasnya. “Aku sudah katakan, aku ingin sendiri untuk saat ini”.

Klasik. Alasan yang biasa orang pakai ketika sudah bosan? Bukankah begitu?

“Aku ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi, banyak hal yang belum aku capai untuk diriku sendiri” sambung Bintang sambil menatap mata sayu Bulan.

Timbul banyak tanda tanya dalam benak Bulan. Sampai saat ini walau hubungan mereka sudah lama berakhir sebagai sepasang kekasih, perlakuan Bintang tak menunjukkan sama sekali hal yang ia ucapkan untuk terakhir kalinya.

Sudahlah, Bulan tak ingin membuang waktu, tenaga, dan pikiran untuk hal yang membuatnya kacau saat ini. Bulan ingin kembali menata yang runtuh untuk kembali utuh. Terkadang kita lupa bahwa cinta dan luka itu adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Untuknya, Bintang, terima kasih atas cinta dan lukanya. Kisah singkat yang hangat. 


Penulis: Dien Wardah Robi'ah (XI-A, MAN 1 Cianjur)
                                                           

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama