Misteri Gedung Tua

Sumber ; Google
 

Malam itu aku masih di kampus, di gedung tua fakultas yang katanya angker. Hampir semua mahasiswa sudah pulang, tetapi aku masih harus mengerjakan laporan di ruang kelas. Lampu neon berkelap-kelip, membuat suasana jadi semakin suram dan tidak nyaman.

Saat sedang mengetik, ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.

“Jangan sendirian di kelas malam ini.”

Aku menatap layar cukup lama. Jantungku berdetak cukup kencang. Ini pasti ulah temanku. Namun.. Siapa? Tidak ada yang tahu jika aku masih di kampus. Aku tidak memberi tahu siapa pun.

Sebelum sempat berpikir lebih jauh, pintu kelas berderit.

Aku menoleh. Pintu itu terbuka sedikit, menampakkan lorong yang panjang yang gelap. Tidak ada siapa pun.

Aku menghela napas, mencoba tenang.

“Angin” gumamku.

Namun kali ini, hawa di ruang kelas berubah. Dinginnya menusuk tulang, padahal semua jendela tertutup.

Aku mencoba mengetik lagi, tapi ketika aku mengangkat kepala, darahku serasa berhenti mengalir.

Kursi di seberang ku tidak kosong lagi. Ada satu sosok yang duduk di sana. Samar, seperti bayangan kabut. Tubuhnya tegak, wajahnya sulit dilihat. Yang terlihat hanya mata redup yang menatap lurus ke arahku.

Aku tercekat, “Siapa kamu?”

Sosok itu tidak membuka mulut. Namun sebuah suara bergema di kepalaku.

“Aku sudah lama di sini. Kau baru menyadarinya malam ini.”

Aku berdiri spontan, hampir menjatuhkan kursi. Bergegas aku berlari menuju pintu. Kutarik gagangnya. Tidak bergerak. Kutarik lebih keras lagi. Tetap terkunci. Padahal barusan aku sendiri yang menutupnya tanpa masalah.

“Tolong..! Ada orang?” Suaraku pecah. Tidak ada jawaban. Hanya gema di lorong.

Aku menoleh lagi. Sosok itu sudah tidak duduk. Ia berdiri. Tinggi. Bayangannya merayap di dinding. Udara semakin dingin, napasku keluar sebagai asap putih.

Langkahnya pelan, nyaris tanpa suara, tapi setiap detiknya membuat dadaku sesak.

Aku mundur, punggungku menempel pada papan tulis. Tubuhku gemetar hebat.

Suara itu kembali bergema.

Mataku panas, hampir menangis. Aku memejamkan mata, berdoa dalam hati, apa pun yang terlintas.

Hening.

Ketika aku membuka mata, Ruangan kembali kosong. Kursi di depan meja tak berisi. Suhu kembali normal.

Tanganku gemetar ketika membereskan laptop dan buku. Kali ini pintu terbuka begitu saja, seolah sejak tadi tidak pernah terkunci.

Aku melangkah cepat ke lorong. Langkah kakiku menggema panjang. Lorong itu sempit, lampunya redup, dindingnya lembap. Setiap pintu kelas yang kutemui di kiri kanan tampak gelap dan kosong, tapi terasa ada mata-mata yang mengintai dari balik kaca.

Kilatan petir menyinari lorong, menampakkan bayanganku sendiri yang terdistorsi di dinding. Namun untuk sepersekian detik, aku yakin bayangan itu bukan hanya milikku.

Aku mempercepat langkah menuju tangga. Namun, entah kenapa, aku menoleh ke belakang.

Di ujung lorong, samar kulihat sosok gelap berdiri. Tidak bergerak. Hanya menatap.

Aku berlari menuruni tangga. Langkahku terburu, hampir terpeleset karena lantai basah oleh rembesan hujan.

Begitu sampai di lantai dasar, aku menoleh ke atas. Kosong. Tidak ada apa-apa.

Aku berusaha mengatur napas. Namun rasa penasaran membuatku menoleh sekali lagi ke ruang kelas tempat tadi aku duduk. Lampunya masih menyala. Jendela kacanya berembun.

Di papan tulis yang tadi kosong, kini ada tulisan besar dengan tinta merah menyala.

“Aku tidak ingin apa pun darimu.. aku hanya menunggu.”

Darahku terasa berhenti mengalir. Aku terpaku di tempat, bahkan suara hujan pun hilang dari telingaku.

. . .

Pagi harinya, satpam menemukanku tertidur di meja dengan keadaan tubuh menggigil. Ia mengira aku kelelahan. Namun saat ia masuk lebih jauh, ia melihat tulisan di papan tulis yang masih jelas terbaca.

Yang membuatnya terdiam lama adalah satu hal, tidak ada spidol merah di ruangan itu.

Sejak hari itu, aku tidak pernah lagi berani sendirian di gedung tua kampus setelah matahari terbenam. Namun setiap kali aku berjalan melewati lorong itu, aku bisa merasakan sesuatu.

Bukan sekedar bayangan. Bukan sekedar angin.

Seseorang, atau sesuatu, yang masih menunggu.

Dan aku tidak tahu.. menunggu apa.

 

Karya : Calysta Nur Oktaviani

                                                           

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama