Malam
itu aku masih di kampus, di gedung tua fakultas yang katanya angker. Hampir
semua mahasiswa sudah pulang, tetapi aku masih harus mengerjakan laporan di
ruang kelas. Lampu neon berkelap-kelip, membuat suasana jadi semakin suram dan
tidak nyaman.
Saat
sedang mengetik, ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
“Jangan
sendirian di kelas malam ini.”
Aku
menatap layar cukup lama. Jantungku berdetak cukup kencang. Ini pasti ulah
temanku. Namun.. Siapa? Tidak ada yang tahu jika aku masih di kampus. Aku tidak
memberi tahu siapa pun.
Sebelum
sempat berpikir lebih jauh, pintu kelas berderit.
Aku
menoleh. Pintu itu terbuka sedikit, menampakkan lorong yang panjang yang gelap.
Tidak ada siapa pun.
Aku
menghela napas, mencoba tenang.
“Angin”
gumamku.
Namun
kali ini, hawa di ruang kelas berubah. Dinginnya menusuk tulang, padahal semua
jendela tertutup.
Aku
mencoba mengetik lagi, tapi ketika aku mengangkat kepala, darahku serasa
berhenti mengalir.
Kursi
di seberang ku tidak kosong lagi. Ada satu sosok yang duduk di sana. Samar,
seperti bayangan kabut. Tubuhnya tegak, wajahnya sulit dilihat. Yang terlihat
hanya mata redup yang menatap lurus ke arahku.
Aku
tercekat, “Siapa kamu?”
Sosok
itu tidak membuka mulut. Namun sebuah suara bergema di kepalaku.
“Aku
sudah lama di sini. Kau baru menyadarinya malam ini.”
Aku
berdiri spontan, hampir menjatuhkan kursi. Bergegas aku berlari menuju pintu.
Kutarik gagangnya. Tidak bergerak. Kutarik lebih keras lagi. Tetap terkunci.
Padahal barusan aku sendiri yang menutupnya tanpa masalah.
“Tolong..!
Ada orang?” Suaraku pecah. Tidak ada jawaban. Hanya gema di lorong.
Aku
menoleh lagi. Sosok itu sudah tidak duduk. Ia berdiri. Tinggi. Bayangannya
merayap di dinding. Udara semakin dingin, napasku keluar sebagai asap putih.
Langkahnya
pelan, nyaris tanpa suara, tapi setiap detiknya membuat dadaku sesak.
Aku
mundur, punggungku menempel pada papan tulis. Tubuhku gemetar hebat.
Suara
itu kembali bergema.
Mataku
panas, hampir menangis. Aku memejamkan mata, berdoa dalam hati, apa pun yang
terlintas.
Hening.
Ketika
aku membuka mata, Ruangan kembali kosong. Kursi di depan meja tak berisi. Suhu
kembali normal.
Tanganku
gemetar ketika membereskan laptop dan buku. Kali ini pintu terbuka begitu saja,
seolah sejak tadi tidak pernah terkunci.
Aku
melangkah cepat ke lorong. Langkah kakiku menggema panjang. Lorong itu sempit,
lampunya redup, dindingnya lembap. Setiap pintu kelas yang kutemui di kiri
kanan tampak gelap dan kosong, tapi terasa ada mata-mata yang mengintai dari
balik kaca.
Kilatan
petir menyinari lorong, menampakkan bayanganku sendiri yang terdistorsi di
dinding. Namun untuk sepersekian detik, aku yakin bayangan itu bukan hanya
milikku.
Aku
mempercepat langkah menuju tangga. Namun, entah kenapa, aku menoleh ke
belakang.
Di
ujung lorong, samar kulihat sosok gelap berdiri. Tidak bergerak. Hanya menatap.
Aku
berlari menuruni tangga. Langkahku terburu, hampir terpeleset karena lantai
basah oleh rembesan hujan.
Begitu
sampai di lantai dasar, aku menoleh ke atas. Kosong. Tidak ada apa-apa.
Aku
berusaha mengatur napas. Namun rasa penasaran membuatku menoleh sekali lagi ke
ruang kelas tempat tadi aku duduk. Lampunya masih menyala. Jendela kacanya
berembun.
Di
papan tulis yang tadi kosong, kini ada tulisan besar dengan tinta merah
menyala.
“Aku
tidak ingin apa pun darimu.. aku hanya menunggu.”
Darahku
terasa berhenti mengalir. Aku terpaku di tempat, bahkan suara hujan pun hilang
dari telingaku.
. . .
Pagi
harinya, satpam menemukanku tertidur di meja dengan keadaan tubuh menggigil. Ia
mengira aku kelelahan. Namun saat ia masuk lebih jauh, ia melihat tulisan di
papan tulis yang masih jelas terbaca.
Yang
membuatnya terdiam lama adalah satu hal, tidak ada spidol merah di ruangan itu.
Sejak
hari itu, aku tidak pernah lagi berani sendirian di gedung tua kampus setelah
matahari terbenam. Namun setiap kali aku berjalan melewati lorong itu, aku bisa
merasakan sesuatu.
Bukan
sekedar bayangan. Bukan sekedar angin.
Seseorang,
atau sesuatu, yang masih menunggu.
Dan
aku tidak tahu.. menunggu apa.
