Sumber : Pinterest
Badai itu
datang dengan raungan purba, layaknya monster kelaparan yang ingin menelan
seisi kota. Di tengah hiruk-pikuk manusia yang berlarian menyelamatkan nyawa,
angin kencang menerbangkan selembar kartu nama, membawanya menari di antara
debu dan puing, sebelum akhirnya mendarat tepat di wajah Arka.
"Arka!
Cepat kemari!" teriak Riky parau.
"Riky,
awas!" Arka memekik saat sebuah papan kayu besar tumbang menghantam tanah,
nyaris merenggut nyawa sahabatnya. Di sela napasnya yang memburu, Arka
mengambil kertas yang menempel di wajahnya.
Raina
Irma Hermawan.
Nama itu
terbaca jelas di bawah langit yang hitam. Belum sempat ia mencerna, teriakan
Riky kembali menyeretnya untuk terus berlari mencari perlindungan.
Dua hari
berlalu, namun kota itu belum juga tenang. Suara sirine ambulans masih
terdengar di seluruh kota, kereta yang lepas kendali menambah mencekam suasana.
Arka berdiri terpaku di stasiun. menyaksikan orang-orang yang kembali dirundung
panik.
"Sial
sekali, kota ini seolah tak diizinkan untuk bernapas tenang," sebuah suara
lembut berbisik di sampingnya. Arka menoleh. Seorang perempuan berdiri di sana,
menatap nanar ke arah kekacauan. Angin pelan memainkan helai rambutnya.
"Lalu,
bagaimana dengan tujuanmu?" tanya perempuan itu tiba-tiba.
Arka
termenung. "Mungkin aku akan naik bus, meski harus berpindah dari satu
halte ke halte lain."
Perempuan
itu menatap Arka dengan binar yang sulit diartikan. "Kalau begitu, aku
ikut."
"Memang
kau mau ke mana?" tanya Arka heran.
Ia terdiam
sejenak, lalu tersenyum tipis. "Melihatmu mematung karena kereta yang kau
tunggu tak kunjung datang, aku tahu kita punya arah yang sama."
"Aku
ke Surabaya," ujar Arka.
"Tujuanku
pun sama. Kenalkan, namaku Raina. Dan kau... pasti Arka, kan?"
Arka
mengangguk, meski ada sebersit tanya yang mengganjal di hatinya; bagaimana
perempuan ini tahu namanya? Namun, lelah yang amat sangat membuatnya enggan
bertanya lebih jauh.
Di dalam
bus, keheningan menjadi jembatan di antara mereka. Saat melewati pemukiman yang
luluh lantak, Raina bergumam lirih, "Sepertinya badai di sini jauh lebih
kejam." Arka menatap ke luar jendela; rumah-rumah hancur, pohon-pohon
tumbang, dan manusia-manusia yang sedang memunguti sisa-sisa hidup mereka.
"Kenapa
kau pergi ke Surabaya?" tanya Arka mencoba memecah sunyi.
Raina
menunduk, senyum tipisnya tampak getir. "Untuk pulang ke rumah yang
sebenarnya," jawabnya singkat. "Lalu kau sendiri?"
"Surabaya
adalah tempat orang tuaku. Aku hanya ingin merasa aman."
Raina
mengangguk pelan. Tatapannya kosong, menembus kaca jendela yang buram.
"Bukankah dunia memang sedang menuju kehancuran? Pernahkah kau mendengar
bumi menangis, memohon agar ia dihancurkan saja karena ulah manusia?"
Arka tak
menjawab. Kalimat itu terasa sangat dingin. Hingga mereka sampai di terminal
tujuan, hanya hening yang menemani. "Terima kasih banyak, Arka," ucap
Raina sebelum menghilang di balik kerumunan. Mereka berpisah di stasiun menuju
tempat tujannya masing masing.
Sesampainya
di rumah, Arka disambut isak tangis kedua orang tuanya. Pelukan hangat itu
menyadarkannya bahwa ia masih hidup. Kota ini jauh lebih tenang, seolah badai
tak pernah berani menyentuhnya.
Sore itu,
Arka melamun di sebuah gazebo taman yang sepi. Di kejauhan, ia melihat sosok
yang tak asing berdiri di bawah pohon yang rindang.
"Raina!"
teriaknya.
Raina
menoleh. "Bagaimana kau bisa ada di sini?" tanya Arka menghampirinya.
"Aku
memang tinggal di daerah sini," jawabnya tenang. Sore itu mereka
menghabiskan waktu berbicara banyak hal di bawah langit mendung yang seolah
ikut mendengarkan. Sebelum berpisah, Raina berbisik, "Arka, besok mari
bertemu lagi di sini, di waktu yang sama."
Esok
harinya, Raina membawa Arka ke sebuah terowongan tua yang terbengkalai. Di
ujungnya, tersembunyi sebuah kawah yang dipenuhi bunga teratai. Cantik, namun
terasa terisolasi.
"Ini
tempat bermainku sejak kecil," ujar Raina sambil jemarinya dengan lembut
membelai kelopak teratai. Ia mengajak Arka menaiki tangga berlumut. Dari atas
sana, dunia tampak berbeda. Arka tersenyum, merasakan damai yang belum pernah
ia rasakan.
"Aku
baru tahu ada tempat seindah ini," gumam Arka. Raina hanya mengangguk,
matanya menatap lekat bunga-bunga teratai itu, seolah sedang berpamitan.
Sebelum mereka pulang, raina berbicara. "Mari kita bertemu lagi ditempat
ini, di waktu yang sama," arka hanya mengangguk mengiyakan.
Di hari
ketiga, Raina membawa Arka ke sebuah saung di tengah hutan yang letaknya lebih
tinggi dari kawah teratai kemarin. Pemandangannya luar biasa, seolah mereka
sedang berdiri di atas awan. Raina membuka sebuah kotak kayu yang nampak sudah
tua, ia mengeluarkan tumpukan foto hasil karyanya. "Aku sangat suka
mengambil banyak gambar, alam, hewan, manusia dan lainnya," ia menatap
foto foto hasil karyannya, "melakukannya membuatku merasa lebih
hidup." Arka terdiam tidak berkutik, namun ia memperhatikan.
"Sebenarnya,
sejak SMA aku menyukai seseorang. Aku selalu mengambil fotonya diam-diam,"
Raina berkata lirih tanpa menoleh. Angin bertiup kencang, menerbangkan
rambutnya.
"Terima
kasih, Arka, sudah membuatku bahagia hari ini."
Mereka
saling menatap. Ada getaran hebat di dada Arka, sebuah perasaan yang terlambat
ia sadari.
Malamnya,
di rumah, ibunya menghampiri dengan wajah sendu. "Arka, kau tahu putri Bu
Susi dan Pak Ilham di kampung sebelah? Dia dulu teman sekolahmu."
Arka
menggeleng pelan. "Kenapa, Bu?"
Ibunya
menyodorkan selembar kertas berisi foto. Jantung Arka seolah berhenti berdetak.
Foto itu adalah Raina.
"Dia
ditemukan meninggal dunia hari ini di kota perantauannya karena bencana badai
dua hari lalu," suara ibunya terdengar sayup di telinga Arka.
"Bagaimana
mungkin...?" Arka berdiri dengan wajah pucat pasi. Tanpa menghiraukan
panggilan ibunya, ia berlari sekuat tenaga.
Ia menuju
taman, menuju terowongan, menuju saung di tengah hutan. "RAINA! KAU DI
MANA?!" teriaknya hingga suaranya serak. Namun, hanya gema suaranya
sendiri yang menjawab.
Ponsel di
sakunya bergetar. Sebuah pesan masuk di grup alumni SMA.
“Turut
berduka cita atas berpulangnya Raina Irma Hermawan, Alumni 2020. Ditemukan
tewas akibat badai besar dua hari lalu...”
Dunia Arka
runtuh. Di sudut saung itu, matanya menangkap sebuah kotak kayu tua. Dengan
tangan gemetar, ia membukanya. Di dalamnya tertulis: Arsip Kenangan Raina.
Tumpukan
foto teratai, langit, dan daun ada di sana. Namun, di tumpukan paling bawah,
Arka menemukan fotonya sendiri saat SMA. Foto yang sudah kusam dan sedikit
buram, dengan tulisan tangan yang mulai pudar di belakangnya: “Kapan aku punya
keberanian untuk mengatakannya?”
Arka jatuh
terduduk. Air matanya jatuh tanpa suara. Selama ini ia terlalu sibuk dengan
dunianya sendiri, mengabaikan hal lain dan sibuk mengejar nilai akademik hanya
untuk mencapai cita-citanya yang bahkan saat dicapai membuatnya hilang arah.
hingga tak fokus dengan kehidupan di sekitarnya. Jadi, siapa yang bersamanya
selama tiga hari ini? Apakah itu sebuah keajaiban atau sekadar sisa kerinduan
yang tak sempat tersampaikan?
....
Arka
melihat ambulans yang membawa raga Raina yang asli melintas di kejauhan.
Teman-temannya berdiri tertunduk. Seorang teman perempuan Raina menghampiri
Arka yang masih mematung. "Dia menyukaimu, Arka. Sangat menyukaimu, sejak
dulu hingga napas terakhirnya."
Arka
menatap foto dirinya di tangan. Di tengah banyaknya suara tangis, ia merasakan
hembusan angin dingin yang membelai pipinya, disusul sebuah bisikan lirih yang
sangat jernih di telinganya:
"Selamat
tinggal, Arka... Aku pamit."
