Makanan Enak Belum Tentu Aman: Pentingnya Analisis Pangan

                      Sumber : Thirdman/Pexels

Nama : Nazwa Agna Syabila
Asal Kampus : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
Email : nazwasyabila0@gmail.com

Di zaman sekarang, makanan semakin mudah ditemukan di mana saja. Mulai dari makanan instan, makanan kemasan, hingga jajanan viral yang ramai di media sosial selalu menarik perhatian masyarakat. Banyak orang membeli makanan karena tampilannya menarik, rasanya enak, atau sedang populer. Padahal, makanan yang terlihat menarik belum tentu aman untuk dikonsumsi. Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (2019), keamanan pangan menjadi hal penting karena makanan yang tidak aman dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan.

Tanpa disadari, hampir semua makanan yang kita konsumsi sebenarnya telah melewati proses analisis pangan. Analisis pangan adalah proses pengujian makanan untuk mengetahui kandungan gizi, kualitas, serta keamanan suatu produk makanan. Pengujian ini dilakukan agar makanan yang dijual kepada masyarakat tetap aman dan layak dikonsumsi. Dengan adanya analisis pangan, produsen dapat mengetahui apakah produk mereka memenuhi standar atau justru memiliki risiko bagi kesehatan konsumen.

Salah satu contoh analisis pangan yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari adalah label informasi gizi pada kemasan makanan dan minuman. Informasi mengenai kadar gula, protein, lemak, karbohidrat, dan kalori yang tercantum pada kemasan merupakan hasil dari proses analisis pangan. Data tersebut membantu masyarakat memilih makanan sesuai kebutuhan tubuhnya. Sebagai contoh, penderita diabetes biasanya perlu memperhatikan kadar gula dalam makanan, sedangkan seseorang yang sedang menjaga pola makan akan lebih memperhatikan jumlah kalori dan lemak. Winarno (2004) menjelaskan bahwa analisis zat gizi sangat penting untuk mengetahui kualitas dan nilai nutrisi suatu produk pangan.

Selain mengetahui kandungan gizi, analisis pangan juga berfungsi untuk mendeteksi bahan berbahaya pada makanan. Sampai saat ini, masih ditemukan kasus penggunaan formalin, boraks, maupun pewarna tekstil pada beberapa jenis makanan. Bahan-bahan tersebut tentu tidak aman jika dikonsumsi dalam jangka panjang. Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2012), penggunaan bahan tambahan pangan yang tidak sesuai aturan dapat membahayakan kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, pengujian pangan sangat diperlukan agar makanan yang beredar tetap aman untuk dikonsumsi.

Tidak hanya penting bagi konsumen, analisis pangan juga memiliki peran besar dalam industri makanan. Saat ini, produk makanan diproduksi dalam jumlah besar dan didistribusikan ke berbagai daerah. Bayangkan jika makanan dipasarkan tanpa melalui proses pengujian terlebih dahulu. Risiko makanan rusak, terkontaminasi, atau bahkan menyebabkan keracunan tentu akan semakin besar. Karena itu, industri makanan biasanya melakukan berbagai pengujian, seperti uji kadar air, uji kandungan gizi, hingga uji mikrobiologi untuk memastikan produk tetap berkualitas dan aman.

Analisis pangan juga membantu menentukan masa simpan suatu produk makanan. Makanan yang disimpan terlalu lama dapat mengalami perubahan rasa, warna, aroma, bahkan menjadi tempat berkembangnya mikroorganisme berbahaya. World Health Organization (2022) menyatakan bahwa makanan yang terkontaminasi mikroorganisme dapat menyebabkan penyakit bawaan pangan atau foodborne disease. Dengan adanya analisis pangan, produsen dapat mengetahui ketahanan suatu produk sehingga tanggal kedaluwarsa yang dicantumkan pada kemasan menjadi lebih akurat.

Di sisi lain, kesadaran masyarakat terhadap keamanan pangan juga masih perlu ditingkatkan. Banyak orang masih membeli makanan hanya karena murah atau sedang viral tanpa memperhatikan kebersihan dan kualitasnya. Padahal, makanan yang tidak higienis dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, seperti diare, keracunan makanan, hingga infeksi saluran pencernaan. Kebiasaan sederhana seperti memeriksa tanggal kedaluwarsa, izin edar BPOM, dan kondisi kemasan sebenarnya dapat membantu masyarakat memilih makanan yang lebih aman.
Analisis pangan tidak hanya dilakukan di laboratorium besar milik industri atau pemerintah. Saat ini, beberapa pengujian sederhana juga sudah banyak dilakukan di laboratorium sekolah maupun kampus. Hal tersebut menunjukkan bahwa analisis pangan memiliki peran yang sangat luas, mulai dari bidang pendidikan, penelitian, industri, hingga perlindungan konsumen. Karena itu, pemahaman mengenai keamanan pangan penting dimiliki oleh masyarakat, terutama generasi muda.

Pada akhirnya, makanan yang enak belum tentu aman untuk dikonsumsi. Di balik setiap produk makanan yang beredar, terdapat proses pengujian yang penting untuk menjaga kualitas dan keamanan pangan tersebut. Analisis pangan bukan hanya membantu industri menghasilkan produk yang baik, tetapi juga melindungi masyarakat dari risiko kesehatan akibat makanan yang tidak aman. Dengan meningkatnya kesadaran terhadap keamanan pangan, masyarakat diharapkan dapat menjadi konsumen yang lebih bijak dan lebih peduli terhadap kesehatan diri sendiri.

Referensi
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2019. Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 28 Tahun 2019 tentang Bahan Penolong dalam Pangan Olahan. Jakarta: BPOM RI.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2012. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 033 Tahun 2012 tentang Bahan Tambahan Pangan. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Sediaoetama, A.D. 2010. Ilmu Gizi untuk Mahasiswa dan Profesi. Jakarta: Dian Rakyat.
Winarno, F.G. 2004. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
World Health Organization. 2022. Food Safety. Geneva: WHO.

                                                           

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama