Rasa Cemas Berlebihan Dapat Mengakibatkan Gangguan OCD

Rasa Cemas Berlebihan Dapat Mengakibatkan Gangguan OCD
Rasa Cemas Berlebihan Dapat Mengakibatkan Gangguan OCD.(Illustrasi: Pexels.com)

Ada kalanya individu mengalami kecemasan yang nampak berlebihan. Hal ini bisa menyebabkan ketegangan, ketakutan, dan kekhawatiran. Menurut Nevid, dkk (2003), kecemasan (anxiety) adalah suatu keadaan khawatir yang mengeluhkan bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi. 

Memang wajar dan normal jika dalam diri individu memiliki kecemasan, baik mengenai kesehatan, keselamatan, kondisi lingkungan, dan sebagainya. Kecemasan merupakan respon dari adanya ancaman dan ketika kecemasan tersebut tidak sesuai dengan ancaman atau bahkan tidak bersumber dari ancaman apapun, itulah yang disebut abnormal dan termasuk dalam gangguan kecemasan (anxiety disorder).

DSM (Diagnostic and Statistical Manual for mental disorder) yang merupakan pedoman klasifikasi gangguan mental, menyebutkan beberapa macam gangguan kecemasan, salah satunya adalah Gangguan Obsesif-Kompulsif (Obsessive-Compulsive Disorder/OCD). Gangguan ini berupa perilaku yang terdorong untuk selalu dilakukan berulang-ulang. Bagi penderita, dengan melakukan perilaku yang berulang-ulang, ia dapat mengurangi kecemasan dalam dirinya.

Penyebab OCD belum diketahui secara pasti. Namun, ada faktor-faktor tertentu yang diduga dapat meningkatkan risiko seseorang menderita OCD, antara lain: Memiliki riwayat OCD dalam keluarga. Menderita gangguan mental lain, seperti gangguan kecemasan, gangguan bipolar, depresi, atau sindrom Tourette.

Adapun berbagai cara terapi dalam menangani OCD. Salah satunya dengan Terapi Kognitif-Behavioral (Cognitive-Behavioral Therapy/CBT). Terapi ini menggunakan teknik pemaparan dengan pencegahan respon. Pemaparan yang dimaksud adalah penderita/klien dihadapkan pada kondisi yang dapat memunculkan pikiran obsesifnya, misalnya meninggalkan rumah. 

Kemudian pencegahan respon merupakan usaha untuk mencegah timbulnya tingkah laku obsesif dan kompulsif. Dalam hal ini, klien tidak diperbolehkan memeriksa pintu rumahnya yang sudah terkunci. Dengan percobaan yang berulang-ulang, kecemasan dan keraguan klien akhirnya berkurang dan ia akan merasa kurang terdorong untuk melakukan ritual itu. 

Menurut Abramowitz (dalam Nevid, dkk, 2003), secara keseluruhan, 4 dari 5 orang yang menjalani terapi ini menunjukkan perbaikan yang signifikan. Selain itu, terapi ini dapat dikombinasikan dengan terapi obat (penggunaan antidepresan tipe SSRI).

Sebagai manusia kita memang sering mendapatkan berbagai masalah. Namun kita juga tidak boleh terlalu lama larut dalam masalah tersebut karena bisa mengakibatkan stress dan depresi. Tentu sebagai manusia kita harus bisa bangkit dari keterpurukan dan harus menatap ke depan dan menyelesaikan apa yang ada di pikiran yang mengganggu kita.


Penulis: Rizky Firmansyah (Anggota KIJ Man 1 Cianjur Kelas XII IPS 3)


                                                           

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama